15 Utusan Satu Suara, Najmul Akhyar Kini Pimpin NWDI NTB

Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar dipercaya memimpin PW II NWDI NTB.

LOMBOK UTARA, Lombokpedia.id – Musyawarah Wilayah (Muswil) II Pengurus Wilayah (PW) Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) Nusa Tenggara Barat (NTB) akhirnya menemukan nakhodanya.

Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Akhyar dipercaya memimpin PW II NWDI NTB setelah 15 utusan daerah secara bulat memberikan mandat kepadanya sebagai Ketua Umum. Tak ada voting yang berliku. Tak ada tarik-ulur nama. Semuanya berujung pada satu nama: Najmul Akhyar.

Keputusan tersebut ditetapkan dalam Muswil II PW NWDI NTB yang berlangsung di Tanjung, Lombok Utara, Minggu (6/9/2026).

Amanah itu, bagi Najmul Akhyar, datang nyaris tanpa bayangan.

Ia mengaku sebelumnya tidak pernah membayangkan akan dipercaya memimpin organisasi yang memiliki akar sejarah kuat di NTB tersebut.

“Saya mengakui tidak pernah membayangkan akan dipercaya memimpin PW NWDI NTB. Tidak ada bayangan saya untuk menjadi ketua. Namun, ketika mendengar 15 utusan memberikan amanah secara penuh, tentu saya tidak bisa menolak,” ujarnya.

Di balik suara bulat itu, Najmul menyadari ada tanggung jawab besar yang ikut dititipkan.

“Ini adalah amanah sekaligus beban yang harus saya sukseskan ke depan,” sambungnya.

Kini, setelah musyawarah usai dan kepemimpinan baru terbentuk, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai.

Najmul menegaskan dirinya akan melanjutkan perjuangan organisasi sekaligus memperkuat hubungan NWDI dengan berbagai pihak. Menurutnya, organisasi tidak bisa berjalan sendirian jika ingin memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat NTB.

Karena itu, kolaborasi akan menjadi salah satu kata kunci dalam kepemimpinannya.

Ia menyebut penguatan tata kelola organisasi melalui kolaborasi lintas sektor sebagai salah satu agenda utama ke depan. Kerja sama akan dibangun tidak hanya dengan pemerintah, tetapi juga dengan organisasi kemasyarakatan dan ormas keagamaan lainnya.

“Penting untuk melakukan kolaborasi dengan pemerintah dan ormas-ormas keagamaan lain,” tegasnya.

Harapannya sederhana, tetapi besar: NWDI bisa semakin kuat secara organisasi dan semakin luas manfaatnya bagi masyarakat.

Najmul pun meminta seluruh warga NWDI di NTB ikut mengawal kepengurusan baru tersebut dengan dukungan moral dan doa.

“Mohon doa agar amanah ini bisa saya kelola dan jalankan dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.

Muswil II PW NWDI NTB kali ini menjadi gelaran kedua di tingkat provinsi. Namun, sebelum sampai ke meja Muswil, konsolidasi organisasi lebih dulu bergerak dari bawah.

Sejumlah Pengurus Daerah (PD) NWDI di kabupaten dan kota se-NTB telah melaksanakan Musyawarah Daerah (Musda). Dari rangkaian tersebut, lahir sejumlah kepemimpinan baru di tingkat daerah.

Di Kota Mataram, misalnya, Musda PD NWDI menetapkan Zaini sebagai ketua.

Sementara di Lombok Utara, TGH. Khairul Faridhi dipercaya memimpin PD NWDI Lombok Utara. Di daerah yang sama, Musda Muslimat NWDI juga menetapkan Hj. Rohani Sulaiman sebagai ketua pengurus daerah.

Rangkaian konsolidasi tersebut kemudian bermuara pada Muswil II NWDI NTB di Tanjung.

TGB: Jangan Habis Energi untuk Berebut Kursi

Ketua Umum PB NWDI TGH. Muhammad Zainul Majdi atau TGB yang hadir dalam Muswil II PW NWDI NTB mengingatkan bahwa NWDI NTB memiliki posisi yang sangat strategis.

Bukan tanpa alasan.

Dari sekitar 20 wilayah NWDI yang aktif di Indonesia, NTB memiliki posisi istimewa karena daerah ini merupakan tempat lahirnya NWDI.

Karena itu, menurut TGB, NWDI NTB semestinya menjadi salah satu wajah utama organisasi. Bukan hanya dalam hal kepemimpinan, tetapi juga dalam cara mengelola organisasi dan menjalankan program perjuangan.

Muswil kali ini dihadiri puluhan perwakilan dari berbagai daerah di NTB. Selain itu, hampir 50 peserta dari Sulawesi turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Di hadapan para peserta, TGB mengingatkan agar energi organisasi tidak habis pada persoalan prosedural ataupun perdebatan soal kepemimpinan yang berkepanjangan.

Setelah musyawarah selesai, kata dia, waktunya kembali bekerja.

Fokus organisasi harus diarahkan pada program-program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat dan membawa kemaslahatan bagi umat.

TGB juga mengajak seluruh warga NWDI tetap meneladani tuntunan pendiri organisasi, Maulana Syaikh.

Program kerja, menurutnya, tidak perlu muluk-muluk. Yang lebih penting adalah rasional, terukur, dan sesuai dengan kemampuan organisasi.

“Prinsip ini merujuk pada pedoman Al-Qur’an bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya,” cetusnya.

Pada akhirnya, NWDI tidak hanya bicara tentang organisasi. Ia lahir dari tradisi pendidikan dan perjuangan.

Sebagai wadah perjuangan berbasis pendidikan atau at-tarbiyah, NWDI membawa satu tugas penting: membangun manusia yang saleh. Bukan sekadar menjadi pribadi yang baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi manusia yang mampu menghadirkan kebaikan dan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.

Dan di tangan kepengurusan baru, amanah itu kini kembali berjalan. (Red2)

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!