Bhayangkari NTB Ajak 2.015 Anggota Belajar Kelola Emosi, Kunci Keluarga Harmonis Bukan Sekadar Cinta

MATARAM, Lombokpedia.id – Rumah tangga yang harmonis bukan berarti tak pernah diwarnai pertengkaran. Perbedaan pendapat, rasa lelah, hingga tekanan pekerjaan bisa menjadi pemicu konflik. Namun, bagaimana seseorang mengelola emosi dan memperlakukan orang-orang terdekatnya menjadi penentu apakah persoalan berakhir dengan saling memahami atau justru melukai.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Hybrid Webinar bertajuk “Neuropsikologi Rumah Tangga” yang digelar Pengurus Daerah Bhayangkari Nusa Tenggara Barat (NTB) di Aula Sasana Dharma Polda NTB, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-74 Tahun 2026 tersebut diikuti 2.015 anggota Bhayangkari dari berbagai wilayah di NTB, baik secara langsung maupun daring.
Webinar menghadirkan praktisi Neuro Parenting Skill, dr. Aisah Dahlan, CM.NLP., CCHt., CI, sebagai narasumber. Diskusi dipandu Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta. Hadir pula Kapolda NTB Irjen Pol Kalingga Rendra Raharja, S.E., M.Si., bersama para pejabat utama Polda NTB dan Kapolres jajaran.
Ketua Pengurus Daerah Bhayangkari NTB, Ny. Widhy Kalingga, mengatakan peringatan HKGB semestinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk menghadirkan program yang memberi manfaat nyata bagi anggota dan keluarga mereka.
Menurutnya, keluarga merupakan fondasi penting dalam membentuk pribadi yang kuat dan berkarakter. Karena itu, memahami emosi, mengenali kebutuhan satu sama lain, serta membangun komunikasi yang sehat menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan rumah tangga.
“Keharmonisan keluarga tidak cukup dibangun hanya dengan niat baik. Dibutuhkan pula pemahaman tentang bagaimana manusia berpikir, merasakan, merespons tekanan, serta berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya,” ujarnya.
Bukan Berarti Keluarga Harmonis Tak Pernah Bertengkar
Dalam kehidupan rumah tangga, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Masalahnya, persoalan sederhana bisa berkembang menjadi konflik berkepanjangan ketika emosi mengambil alih percakapan.
Widhy menegaskan, keluarga harmonis bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah. Keharmonisan justru terlihat dari kemampuan pasangan menyelesaikan persoalan secara dewasa, menjaga kepercayaan, dan mempertahankan kasih sayang di tengah perbedaan.
Bagi keluarga besar Polri, perhatian terhadap kesehatan emosional juga menjadi penting. Dinamika pekerjaan dan tanggung jawab kedinasan dapat menghadirkan tekanan tersendiri yang berpotensi terbawa hingga ke rumah.
Namun, tanggung jawab menjaga keharmonisan bukan hanya berada di pundak istri atau anggota Bhayangkari. Kedua pasangan perlu terlibat dalam membangun hubungan yang sehat.
“Keluarga yang sehat dibangun melalui keterlibatan kedua pasangan, dengan komunikasi yang terbuka, penghormatan terhadap satu sama lain, dan kesediaan untuk berbagi tanggung jawab,” tegasnya.
Ia berharap anggota Bhayangkari dapat menerapkan pembelajaran tersebut melalui kebiasaan sederhana, seperti meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga, mendengarkan pasangan dengan penuh perhatian, serta berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Perubahan besar, kata Widhy, sering kali berawal dari hal-hal kecil. Bentakan diganti dengan dialog, prasangka diganti dengan klarifikasi, dan kebiasaan saling menyalahkan diganti dengan kemauan mencari solusi bersama.
Saat Marah, Jangan Terburu-buru Mengambil Keputusan
Dalam pemaparannya, dr. Aisah Dahlan menjelaskan bahwa emosi yang intens dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengendalikan perilaku dan mempertimbangkan konsekuensi dari tindakannya.
Ketika berada dalam tekanan, sistem otak yang berperan dalam pemrosesan emosi ikut bekerja. Pada saat yang sama, stres yang tinggi dapat menyulitkan seseorang menjalankan fungsi pengendalian impuls dan pengambilan keputusan yang melibatkan korteks prefrontal.
Kondisi tersebut membantu menjelaskan mengapa seseorang terkadang melontarkan kata-kata menyakitkan atau bereaksi berlebihan ketika marah. Meski demikian, emosi yang kuat bukan berarti seseorang sepenuhnya kehilangan kemampuan berpikir.
Karena itu, dr. Aisah mengingatkan bahwa persoalan rumah tangga tidak selalu harus diselesaikan saat emosi sedang memuncak.
Mengambil jeda, mengatur napas, dan memberi waktu untuk menenangkan diri dapat membantu seseorang memilih respons yang lebih tepat sebelum melanjutkan pembicaraan.
Namun, jeda bukan berarti menghindari masalah atau mendiamkan pasangan sebagai bentuk hukuman. Seseorang perlu menyampaikan bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sekaligus menyepakati kapan pembicaraan akan dilanjutkan.
Setelah suasana lebih tenang, pasangan dapat membicarakan persoalan dengan berfokus pada kejadian dan kebutuhan, bukan menyerang karakter masing-masing.
Alih-alih menyebut pasangan egois, misalnya, seseorang bisa menjelaskan perasaannya ketika tidak didengarkan dan menyampaikan harapan agar keduanya memperoleh kesempatan yang sama untuk berbicara.
Intinya, mengelola emosi bukan berarti harus menghilangkan semua perasaan negatif. Yang lebih penting adalah mengenali perasaan tersebut dan memilih tindakan yang tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Anak Belajar dari Apa yang Dilihat di Rumah
Selain hubungan suami istri, webinar tersebut menyoroti pentingnya pengelolaan emosi orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Anak tidak hanya belajar melalui nasihat. Mereka juga mengamati bagaimana orang tua menghadapi kemarahan, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan memperlakukan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungan keluarga yang hangat, responsif, dan memiliki batasan yang jelas dapat membantu anak mengembangkan rasa aman serta keterampilan sosial dan emosional.
Sebaliknya, pertengkaran intens yang terjadi berulang kali, penghinaan, ancaman, hingga kekerasan dapat menjadi sumber stres serius bagi anak dan berpotensi mengganggu kesejahteraan emosionalnya.
Karena itu, orang tua perlu membedakan disiplin dengan intimidasi.
Disiplin yang sehat membantu anak memahami aturan, konsekuensi, dan tanggung jawab. Sementara intimidasi lebih banyak mengandalkan rasa takut, sehingga anak mungkin patuh tanpa memahami alasan di balik aturan yang diberikan.
dr. Aisah juga mendorong orang tua mengenali pemicu kemarahan, mulai dari kelelahan, tekanan pekerjaan, harapan yang terlalu tinggi, hingga pengalaman masa lalu yang dapat memengaruhi respons emosional.
Jika terlanjur membentak anak, orang tua dianjurkan mengakui kesalahan, meminta maaf, dan menjelaskan upaya yang akan dilakukan agar perilaku serupa tidak terus berulang.
Meminta maaf bukan berarti kehilangan kewibawaan. Justru, anak belajar bahwa setiap orang bertanggung jawab atas perilakunya dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Orang tua tidak harus menjadi pribadi yang sempurna. Yang lebih penting adalah kesediaan untuk terus belajar menciptakan lingkungan keluarga yang aman, penuh kasih sayang, konsisten, dan tetap memiliki batasan yang jelas.
Tiga Kebiasaan Sederhana untuk Memperkuat Hubungan
Untuk membantu pasangan menerapkan pemahaman tersebut, dr. Aisah menekankan tiga hal yang dapat dilatih dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, mengenali tanda-tanda emosi mulai meningkat. Napas yang semakin cepat, otot menegang, suara meninggi, atau dorongan untuk langsung membalas bisa menjadi sinyal bahwa seseorang perlu berhenti sejenak sebelum konflik semakin memanas.
Kedua, mendengarkan untuk memahami, bukan sekadar membantah. Pasangan perlu memberikan ruang satu sama lain untuk menyampaikan perasaan dan kebutuhan tanpa terburu-buru membela diri atau menentukan siapa yang paling benar.
Ketiga, memperbaiki hubungan setelah konflik. Ketika suasana telah tenang, pasangan perlu membicarakan perilaku yang melukai, mengakui kesalahan secara spesifik, dan menyepakati perubahan agar persoalan serupa tidak terus berulang.
Kebiasaan tersebut membutuhkan latihan. Perubahan perilaku tidak selalu terbentuk hanya melalui satu percakapan, melainkan melalui pengalaman yang konsisten dari waktu ke waktu.
Meski demikian, pengelolaan emosi dan komunikasi yang sehat tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan kekerasan. Apabila terdapat ancaman, kekerasan fisik, atau kontrol yang membahayakan, keselamatan harus menjadi prioritas dan bantuan profesional perlu dicari.
Melalui webinar yang diikuti 2.015 anggota tersebut, Bhayangkari NTB berupaya memperluas pemahaman mengenai kesehatan emosional, komunikasi keluarga, dan pola pengasuhan anak.
Pada akhirnya, keluarga yang kuat bukanlah keluarga yang selalu sepakat atau tak pernah melakukan kesalahan. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang bersedia saling mendengarkan, bertanggung jawab atas perilaku masing-masing, dan memperbaiki hubungan tanpa merendahkan satu sama lain.
Sebab, rumah semestinya bukan tempat seseorang takut menunjukkan perasaannya, melainkan ruang aman untuk pulang, bercerita, dan tumbuh bersama. (red2)
