Rupiah Makin Melemah, Tembus Rp18.083 per Dolar AS: Ada Apa?
JAKARTA, lombokpedia.id – Rupiah kembali mendapat tekanan. Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp18.083 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka ini melemah 74 poin atau sekitar 0,41 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp18.009 per dolar AS.
Data tersebut disadur dari laporan ANTARA yang mencatat pergerakan rupiah pada perdagangan Selasa.
Sederhananya, kalau sebelumnya membutuhkan sekitar Rp18.009 untuk mendapatkan 1 dolar AS, kini harus merogoh sekitar Rp18.083.
Memang selisihnya terlihat kecil. Tapi di pasar keuangan, perubahan puluhan poin bisa menjadi sinyal yang cukup penting, terutama ketika pelemahan terjadi di tengah berbagai sentimen global dan domestik.
Bukan Cuma Soal Dolar
Lantas, kenapa rupiah kembali melemah?
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), bank sentral Amerika Serikat.
Menurut analis pasar uang Ibrahim Assuaibi yang dikutip ANTARA, pasar melihat adanya kemungkinan besar The Fed mempertahankan suku bunganya.
Ketika suku bunga AS tetap tinggi, dolar AS bisa menjadi lebih menarik bagi investor. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah bisa ikut mendapat tekanan.
Situasi geopolitik juga belum benar-benar bersahabat. Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih menjadi salah satu sumber ketidakpastian pasar global.
Transisi di Bank Indonesia Ikut Jadi Sorotan
Ada faktor lain yang membuat pasar semakin berhati-hati: pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI).
Gubernur BI Perry Warjiyo secara mengejutkan mengundurkan diri dan posisi sementara kemudian diisi Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.
Reuters melaporkan bahwa pengunduran diri tersebut terjadi ketika pasar sedang mencermati hubungan antara kebijakan moneter, pertumbuhan ekonomi, dan stabilitas rupiah. Pergantian pimpinan bank sentral pun menjadi perhatian investor karena menyangkut arah kebijakan ekonomi ke depan.
ANTARA juga mengutip analis Bank Woori Saudara Rully Nova yang menyebut pelaku pasar cenderung mengambil sikap hati-hati terhadap arah kebijakan BI di bawah kepemimpinan baru.
BI Sebenarnya Sudah Turun Tangan
Meski rupiah kembali melemah, bukan berarti Bank Indonesia tinggal diam.
Dalam Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026, BI menyebut terus memperkuat stabilisasi rupiah melalui berbagai instrumen, termasuk intervensi di pasar valuta asing.
BI juga mencatat rupiah sempat menguat ke Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli 2026. Pada saat itu, BI menilai nilai tukar rupiah masih relatif stabil dibandingkan posisi akhir Juni yang berada di Rp17.880 per dolar AS.
Pada rapat 21–22 Juli 2026, BI juga mempertahankan BI-Rate di 5,75 persen. Bank sentral menyatakan kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Lalu, Apa Dampaknya ke Masyarakat?
Nah, ini bagian yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Rupiah yang melemah tidak otomatis berarti harga semua barang langsung naik. Namun, tekanan terhadap rupiah bisa membuat biaya sejumlah barang dan bahan baku yang berkaitan dengan impor menjadi lebih mahal.
Misalnya, perusahaan yang harus membeli bahan baku menggunakan dolar AS akan membutuhkan rupiah lebih banyak untuk membayar barang yang sama.
Efeknya bisa merembet ke berbagai sektor, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku atau komponen impor.
Sebaliknya, eksportir justru bisa mendapatkan keuntungan tertentu karena pendapatan dalam dolar ketika dikonversikan ke rupiah menjadi lebih besar.
Apakah Rupiah Akan Terus Melemah?
Belum tentu.
Nilai tukar rupiah bergerak setiap hari dan sangat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kebijakan The Fed, kondisi geopolitik, arus modal asing, kebutuhan dolar di dalam negeri hingga kebijakan Bank Indonesia.
Karena itu, level Rp18.083 per dolar AS lebih tepat dilihat sebagai gambaran kondisi pasar pada perdagangan 28 Juli 2026, bukan kepastian bahwa rupiah akan terus melemah setelahnya.
Yang jelas, pasar kini sedang menunggu dua hal besar: bagaimana arah kebijakan The Fed dan bagaimana transisi kepemimpinan Bank Indonesia berjalan.
Keduanya akan menjadi bagian penting dalam menentukan apakah rupiah bisa kembali menemukan pijakannya atau justru masih harus menghadapi tekanan dalam beberapa waktu ke depan.
