Oslo Hening Saat Raja Harald V Diantar Ribuan Rakyat ke Peristirahatan Terakhirnya

OSLO, Lombokpedia.id – Oslo mendadak seperti menahan napas. Puluhan ribu orang memadati jalan-jalan di pusat ibu kota Norwegia untuk menyaksikan prosesi pemakaman Raja Harald V.
Peti jenazah sang raja baru saja meninggalkan Istana Kerajaan. Di atas kereta meriam seremonial berwarna gelap, peti itu diangkut menggunakan kendaraan militer Mercedes 4×4 berwarna hitam dan diapit para pembawa peti dari kalangan staf pribadi mendiang raja.
Di barisan terdepan, polisi berkuda membuka jalan. Mereka diikuti Royal Guard dan Norwegian Army Band yang memainkan musik pemakaman.
Di belakang peti, Raja Haakon VIII berjalan bersama anak-anaknya, Putri Mahkota Ingrid Alexandra dan Pangeran Sverre Magnus, serta saudara perempuannya, Putri Märtha Louise.
Sementara itu, Ratu Mette-Marit dan Ratu Sonja mengikuti prosesi menggunakan kendaraan kerajaan.
Suasana Oslo yang biasanya riuh berubah menjadi begitu hening. Hanya alunan musik pemakaman dan dentuman meriam yang sesekali terdengar di tengah lautan manusia.
Dentuman pertama dari 21 kali tembakan penghormatan juga mulai terdengar dari Benteng Akershus, lokasi yang nantinya menjadi tempat peristirahatan terakhir Raja Harald V. Di tempat yang sama pula para pendahulunya dimakamkan.
Prosesi ini bukan hanya dihadiri rakyat Norwegia.
Sejumlah anggota keluarga kerajaan dari berbagai negara Eropa, Jepang hingga kawasan Timur Tengah turut datang. Para kepala negara juga hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.
Pangeran Wales menghadiri upacara bersama Putri Anne.
Ribuan Prajurit Berbaris, Oslo Ditutup
Sejak beberapa jam sebelum prosesi dimulai, warga sudah memadati rute yang akan dilalui rombongan kerajaan.
Prosesi pemakaman menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer, dari Istana Kerajaan menuju Katedral Oslo.
Salah seorang warga, Elisabeth Oksum, bahkan datang empat jam lebih awal. Ia mengatakan kehadirannya merupakan bentuk penghormatan kepada Raja Harald yang dianggap sebagai sosok modernis.
Sekitar 1.900 personel dari tiga matra militer Norwegia telah mengambil posisi di sepanjang rute. Mereka berdiri berjajar di kedua sisi jalan, sementara bendera Norwegia dikibarkan setengah tiang.
Pusat kota Oslo juga ditutup untuk kendaraan. Bahkan sepeda dan skuter listrik tidak diperbolehkan melintas di kawasan tersebut.
Polisi ditempatkan di sejumlah titik pemeriksaan yang menjadi akses masyarakat menuju jalur prosesi.
Hari itu matahari bersinar cukup cerah. Namun, warga yang datang juga harus mengikuti aturan khusus: payung dilarang digunakan di sepanjang rute.
Diperkirakan lebih dari 200.000 orang berusaha melihat langsung prosesi pemakaman tersebut.
Bagi mereka yang tidak mendapatkan tempat di sepanjang jalan, pemerintah menyediakan sembilan layar raksasa yang tersebar di berbagai titik pusat kota untuk menayangkan seluruh rangkaian pemakaman.
Dari Istana Menuju Katedral
Rangkaian upacara dimulai dengan pasukan seremonial berkumpul di Benteng Akershus, sebuah benteng abad pertengahan yang menjadi lokasi pemakaman terakhir Raja Harald.
Setelah itu, peti jenazah dibawa dari Istana Kerajaan, tempat Raja Harald sebelumnya disemayamkan, menuju Katedral Oslo.
Upacara pemakaman dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 13.00 waktu setempat. Sebelum upacara dimulai, seluruh Norwegia mengheningkan cipta selama satu menit.
Tiga kali dentangan lonceng akan menandai awal dan akhir momen tersebut.
Upacara juga akan diisi pidato penghormatan dari Presiden Parlemen Norwegia dan Perdana Menteri. Perwakilan dari berbagai agama turut ambil bagian dalam prosesi menyalakan lilin sebagai simbol penghormatan dan doa.
Setelah upacara di katedral selesai, peti jenazah Raja Harald akan kembali diproses menuju Benteng Akershus.
Di sana, prosesi terakhir akan digelar secara tertutup di dalam mausoleum kerajaan.
Selain rangkaian tersebut, penghormatan juga ditandai dengan 21 kali tembakan meriam. Raja Haakon VIII kemudian dijadwalkan tampil di balkon kerajaan sebagai bagian dari rangkaian seremoni.
Hari itu, Oslo bukan sekadar menjadi ibu kota Norwegia.
Kota tersebut berubah menjadi lautan manusia yang datang untuk melepas seorang raja ke peristirahatan terakhirnya. Di antara musik pemakaman, dentuman meriam dan bendera yang berkibar setengah tiang, satu hal terasa paling kuat: keheningan.
Artikel ini disadur dari laporan media internasional mengenai prosesi pemakaman Raja Harald V. (Red2)
