Ketika Wartawan Berhadapan dengan Kecepatan Medsos, FWMO Lotim Ingatkan: Jangan Kalah dengan Verifikasi

Diskusi menghadirkan Ketua dan unsur pembina FWMO Lombok Timur, masing-masing Syamsurijal, Dimiyati, Miq Makbul, dan Widiyanto.

LOMBOK TIMUR, Lombokpedia.id – Dunia jurnalistik bergerak semakin cepat. Satu informasi bisa berpindah dari satu layar ke layar lain hanya dalam hitungan detik. Namun, di tengah kecepatan itu, ada satu hal yang tak boleh ikut tergesa-gesa: verifikasi.

Pesan itulah yang mengemuka dalam diskusi Forum Wartawan Media Online (FWMO) Lombok Timur bertajuk “Pers Maju, Lotim Smart”.

Kegiatan yang diikuti seluruh anggota FWMO Lombok Timur tersebut menjadi ruang untuk berbagi pandangan sekaligus menguatkan kembali kapasitas dan profesionalisme wartawan di tengah perubahan wajah media.

Diskusi menghadirkan Ketua dan unsur pembina FWMO Lombok Timur, masing-masing Syamsurijal, Dimiyati, Miq Makbul, dan Widiyanto.

Sejumlah persoalan yang kini akrab dengan dunia jurnalistik turut dibicarakan, mulai dari derasnya arus informasi di media sosial, tuntutan kecepatan pemberitaan, hingga pentingnya wartawan tetap berpijak pada kode etik jurnalistik.

Di era ketika siapa saja bisa menjadi “media” melalui media sosial, wartawan dituntut tidak sekadar menjadi orang pertama yang menyampaikan informasi. Lebih dari itu, wartawan harus memastikan informasi yang sampai ke publik benar, berimbang, dan memiliki dasar yang jelas.

Dimiyati mengatakan, FWMO Lombok Timur diharapkan tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya wartawan, tetapi juga menjadi forum yang mampu memberi contoh dalam menjaga profesionalisme dan kekompakan.

“FWMO juga diharapkan dapat menjadi contoh yang baik bagi organisasi-organisasi atau forum wartawan lainnya. Dan terhadap kekompakan tetap dipertahankan,” kata Dimiyati.

Sementara itu, Pembina FWMO Lombok Timur Widiyanto menyoroti tantangan terbesar yang kini dihadapi media arus utama: kecepatan media sosial.

Informasi di media sosial bisa berlari lebih cepat daripada proses jurnalistik. Masalahnya, kecepatan itu sering kali tidak berjalan beriringan dengan konfirmasi dan verifikasi.

“Kita berhadapan dengan media sosial yang memiliki kecepatan tanpa konfirmasi dan ini menjadi tantangan terbesar,” ujar Widiyanto.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri bagi media profesional. Sebab, masyarakat sering kali sudah lebih dulu menerima sebuah informasi dari media sosial sebelum media melakukan proses jurnalistik dan menerbitkannya.

“Kekhawatiran kita informasi medsos lebih cepat dibanding informasi media. Namun begitu kita tetap mengedepankan kode etik sebagai pegangan di dalam bekerja,” katanya.

Bagi Widiyanto, wartawan tidak perlu ikut-ikutan berlomba menjadi yang paling cepat jika kecepatan tersebut harus mengorbankan akurasi.

Sebab, kekuatan media profesional justru berada pada proses di belakang sebuah berita: mencari fakta, melakukan verifikasi, meminta konfirmasi, kemudian menyajikannya kepada publik secara berimbang.

Karena itu, ia mendorong seluruh anggota FWMO untuk terus mengasah kemampuan dan memperluas pengetahuan jurnalistik.

“kapasitas kita sebagai wartawan harus terus kita tingkatkan dan isi, karena semakin ke sini semakin banyak tantangan media,” ujarnya.

Tantangan itu, kata dia, akan terus berkembang seiring perubahan teknologi dan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi.

Hari ini mungkin tantangannya media sosial. Besok bisa jadi kecerdasan buatan, algoritma, atau bentuk teknologi lain yang mengubah cara orang mencari dan mempercayai sebuah informasi.

Di tengah perubahan tersebut, satu hal yang tetap menjadi pegangan adalah profesionalisme.

Melalui diskusi “Pers Maju, Lotim Smart”, FWMO Lombok Timur ingin menjaga agar wartawan tidak sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi juga mampu membaca arah perubahan itu sendiri.

Sebab pada akhirnya, pers bukan hanya tentang siapa yang paling cepat memberitakan. Pers juga tentang siapa yang paling mampu menjaga kepercayaan publik.

Dan kepercayaan itu lahir dari berita yang akurat, berimbang, terverifikasi, serta dapat dipertanggungjawabkan. (Red2)

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!