Volta Infra Raup Rp4,9 Triliun, Bisnis Infrastruktur AI Kian Panas

Volta Infra Raup Rp4,9 Triliun, Bisnis Infrastruktur AI Kian Panas

SINGAPURA, Lombokpedia.id – Perlombaan membangun ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tak lagi hanya soal menciptakan chatbot atau model AI yang semakin pintar. Di balik layar, ada perebutan bisnis yang tak kalah besar: membangun infrastruktur agar AI bisa terus “bernapas”.

Salah satu pemain yang sedang mencuri perhatian adalah Volta Infra Holdings, perusahaan infrastruktur AI asal Singapura. Startup ini baru saja mengantongi pendanaan sebesar US$300 juta, atau sekitar Rp4,9 triliun, dengan valuasi perusahaan mencapai US$2,4 miliar.

Tak berhenti di situ, seperti disadur dari Tech in Asia Volta juga berhasil mengamankan komitmen pembiayaan hingga US$5 miliar untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang mencari akses terhadap chip AI dan kapasitas komputasi berdaya tinggi.

Pendanaan jumbo tersebut dipimpin oleh dua perusahaan modal ventura ternama, Andreessen Horowitz (a16z) dan Altimeter Capital. Menariknya, raksasa chip AI Nvidia serta pendiri Dell Technologies, Michael Dell, juga ikut menjadi investor.

Kontrak Raksasa Senilai US$10 Miliar

Di balik suntikan dana itu, Volta ternyata telah mengamankan kontrak pelanggan bernilai fantastis.

Perusahaan mengungkapkan telah menandatangani kontrak selama enam tahun senilai US$10 miliar, meski identitas pelanggannya masih dirahasiakan.

Proyek tersebut akan dijalankan bersama Bitdeer, perusahaan penambangan Bitcoin sekaligus operator pusat data yang juga berbasis di Singapura.

Lokasi proyek berada di Tydal, Norwegia, kawasan yang dikenal memiliki pasokan energi besar dan iklim dingin, dua faktor penting untuk mengoperasikan pusat data AI berskala besar.

Dalam kerja sama tersebut, anak usaha Bitdeer, Tydal Data Center AS, akan menyediakan kapasitas teknologi informasi sebesar 121 megawatt, yang didukung sekitar 133 megawatt daya listrik melalui perjanjian sewa lokasi (colocation) dan layanan selama 16 tahun.

Infrastruktur AI Jadi Ladang Investasi Baru

Langkah Volta memperlihatkan bagaimana bisnis AI kini mulai bergeser.

Jika sebelumnya investor berlomba menanam modal pada perusahaan pembuat model AI, kini perhatian mulai beralih ke perusahaan yang menyediakan “rumah” bagi AI: mulai dari lahan, listrik, jaringan internet, hingga pusat data berkapasitas besar.

Tren ini juga terlihat dari langkah CoreWeave, perusahaan penyedia komputasi AI yang baru saja memperoleh fasilitas pembiayaan senilai US$8,5 miliar. Pendanaan tersebut dijamin oleh aset infrastruktur komputasi berkinerja tinggi dan kontrak pelanggan jangka panjang.

Peluang Besar, Tapi Tetap Ada Risiko

Meski prospeknya menjanjikan, bukan berarti bisnis ini bebas hambatan.

Lembaga pemeringkat Moody’s mengingatkan bahwa ekspansi besar-besaran infrastruktur AI juga membawa sejumlah risiko. Mulai dari potensi pembangunan pusat data yang berlebihan, perkembangan teknologi yang sangat cepat sehingga membuat fasilitas cepat usang, hingga risiko pembiayaan ulang apabila permintaan AI melambat di masa depan.

Namun untuk saat ini, geliat investasi menunjukkan satu pesan yang cukup jelas: demam AI belum mereda.

Bahkan, bukan hanya perusahaan pembuat AI yang menjadi incaran investor, tetapi juga mereka yang membangun fondasi agar teknologi tersebut dapat terus berkembang. (Red2)

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!