Pengalaman Seru Naik Fast Ferry Dari Serangan Bali ke Lombok

Menyusuri Laut Bali, Singgah di Nusa Penida, Melipir di Gili Trawangan, Lalu Menepi di Bangsal Lombok

DENPASAR, Lombokpedia.id – Pagi di Pelabuhan Serangan selalu punya cerita sendiri.

Di tempat inilah perjalanan kami bersama tim Lombokpedia dimulai. Bukan dengan pesawat, bukan pula dengan mobil yang membelah jalanan Bali, tetapi dengan sebuah fastferry dari Marina Group yang akan membawa kami menyeberangi laut menuju Lombok, pada Minggu (9/8).

Tujuan akhirnya adalah Pelabuhan Bangsal, Pemenang, Lombok Utara. Namun perjalanan menuju Bangsal ternyata tidak sesederhana menarik garis lurus di atas peta.

Ada Nusa Penida di tengah perjalanan. Ada Gili Trawangan. Ada Gili Air. Dan tentu saja, ada laut Bali-Lombok yang menjadi jalan panjang sebelum akhirnya kami kembali menginjak tanah Lombok.

Serangan: Pulau Kecil di Selatan Denpasar

Pelabuhan tempat kami berangkat berada di Kelurahan Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar.

Serangan sebenarnya bukan sekadar tempat kapal datang dan pergi. Pulau kecil di selatan Denpasar ini memiliki sejarah panjang dan karakter yang cukup unik. Pemerintah Kota Denpasar mencatat Serangan sebagai salah satu wilayah kelurahan di Kecamatan Denpasar Selatan. Sementara Dinas Pariwisata Kota Denpasar menyebut Serangan memiliki kekayaan wisata bahari, budaya dan religi yang cukup beragam.

Ada Pura Dalem Sakenan, Kampung Bugis, kawasan konservasi penyu, pantai, hutan mangrove hingga berbagai aktivitas wisata bahari.

Pulau ini juga pernah mengalami perubahan besar akibat reklamasi pada 1990-an. Menurut Dinas Pariwisata Kota Denpasar, luas kawasan Serangan berubah dari sekitar 111 hektare menjadi 481 hektare setelah proses reklamasi pada medio 1995–1998.

Namun bagi wisatawan yang hendak menyeberang ke pulau-pulau kecil di sekitar Bali dan Lombok, Serangan punya fungsi lain yang tak kalah penting. Ia menjadi salah satu pintu keberangkatan menuju destinasi-destinasi kepulauan.

Dari sinilah perjalanan kami dimulai. Naik Fastferry, Menyusuri Laut Begitu memasuki fastferry, suasananya terasa berbeda dengan perjalanan darat. Kursi-kursi penumpang mulai terisi. Barang bawaan disimpan di tempat yang telah disediakan. Mesin kapal kemudian hidup, dan perlahan daratan Serangan mulai menjauh.

Perjalanan laut selalu punya cara sendiri untuk membuat kita diam sejenak. Tidak ada lampu merah. Tidak ada kemacetan. Tidak ada suara klakson.

Yang terlihat hanya laut, langit dan sesekali kapal lain yang melintas. Tetapi perjalanan kami belum langsung menuju Lombok. Fastboat terlebih dahulu bergerak menuju Nusa Penida.

Rute seperti ini memang bukan sesuatu yang asing dalam jaringan transportasi wisata Bali-Lombok. Sejumlah layanan fastboat menghubungkan Serangan dengan Nusa Penida, Kepulauan Gili dan Lombok. Bahkan beberapa rute dari Serangan ke Bangsal memang mencantumkan persinggahan di Gili Trawangan dan Gili Air.

Nusa Penida dan Penumpang dari Berbagai Negara

Ketika kapal berhenti di Nusa Penida, suasana di dalam fastferry berubah. Penumpang baru mulai naik. Menariknya, seluruh penumpang yang naik dari Nusa Penida yang kami temui adalah wisatawan asing.

Ada yang membawa ransel besar. Ada yang hanya membawa tas kecil. Wajah-wajah dari berbagai negara itu kemudian bercampur dengan penumpang yang sudah lebih dulu berada di dalam kapal.

Sekilas, perjalanan ini seperti sebuah potret kecil pariwisata Bali dan Lombok. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia bergerak dari satu pulau ke pulau lain.

Mereka tidak lagi melihat Bali, Nusa Penida, Gili dan Lombok sebagai tempat yang terpisah jauh. Bagi wisatawan, semuanya seperti rangkaian titik dalam satu perjalanan panjang.

Dari Nusa Penida, fastferry kembali bergerak. Tujuannya: Kepulauan Gili.

Gili Trawangan, Gili Air, Baru Bangsal Gili Trawangan menjadi salah satu pemberhentian berikutnya. Satu per satu penumpang turun. Koper dan ransel berpindah dari kapal menuju dermaga. Ada wisatawan yang langsung berjalan menuju penginapan, ada pula yang terlihat masih mencari arah.

Setelah Gili Trawangan, perjalanan berlanjut menuju Gili Air. Di sini suasananya terasa sedikit berbeda. Gili Air lebih tenang dibandingkan Trawangan. Tetapi laut tetap menjadi halaman utama. Kapal datang dan pergi membawa wisatawan yang ingin menikmati sisi lain Lombok.

Rute fastferry dari Bali menuju Bangsal memang lazim menghubungkan beberapa titik tersebut. Salah satu layanan yang kami telusuri mencantumkan rute Serangan–Gili Trawangan–Gili Air–Bangsal, sementara layanan lain juga menghubungkan Serangan dengan Nusa Penida dan Gili.

Dan setelah Gili Air, tibalah bagian terakhir perjalanan, Bangsal

Akhirnya Kembali ke Lombok. Dari kejauhan, daratan Lombok perlahan terlihat. Perasaan yang muncul mungkin sederhana: akhirnya sampai juga.

Pelabuhan Bangsal di Pemenang menjadi titik akhir perjalanan kami menggunakan fastferry dari Serangan. Perjalanan yang dimulai dari sebuah pulau kecil di selatan Denpasar berakhir di Lombok Utara.

Kalau dilihat di peta, perjalanan ini memang hanya berupa garis-garis yang menghubungkan beberapa titik. Tetapi bagi penumpang di dalam kapal, garis itu adalah pengalaman.

Ada Serangan. Ada Nusa Penida. Ada wajah-wajah wisatawan asing yang datang dengan cerita masing-masing.

Ada Gili Trawangan yang ramai. Ada Gili Air yang lebih tenang. Dan akhirnya ada Bangsal, gerbang menuju Lombok Utara.

Serangan dan Cerita Pariwisata yang Lebih Besar

Perjalanan ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pariwisata di kawasan Bali-Lombok sebenarnya sudah membentuk jaringan antarpulau yang cukup kuat.

Wisatawan tidak selalu datang untuk tinggal di satu tempat. Mereka berpindah. Dari Bali ke Nusa Penida, lalu ke Gili, kemudian Lombok. Atau sebaliknya.

Data dan informasi rute fastferry yang tersedia saat ini menunjukkan adanya koneksi langsung antara sejumlah destinasi tersebut. Nusa Penida juga kini terhubung dengan Kepulauan Gili dan Bangsal melalui berbagai layanan kapal cepat.

Di tengah jaringan perjalanan itu, Serangan menjadi salah satu pintu yang menarik. Ia bukan hanya tempat menunggu kapal. Ia adalah salah satu titik tempat wisatawan memulai perjalanan menuju pulau berikutnya.

Dan bagi kami, perjalanan dari Serangan menuju Bangsal menjadi pengalaman kecil yang cukup menarik untuk diceritakan. Sebab terkadang, perjalanan menuju sebuah tempat justru sama menariknya dengan tempat yang kita tuju.

Di atas laut, kami melihat sesuatu yang sederhana tetapi penting. Pariwisata tidak selalu tentang satu destinasi. Ia tentang koneksi.

Tentang bagaimana satu pulau terhubung dengan pulau lainnya. Tentang bagaimana seorang wisatawan bisa bangun pagi di Bali, makan siang di Gili, lalu sore hari sudah berada di Lombok. Dan di antara semua itu, laut menjadi jalan yang menyatukannya. Dari Serangan ke Bangsal, perjalanan kami akhirnya selesai.

Tetapi cerita perjalanan antarpulau itu rasanya baru saja dimulai. (Red2)

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!