Alpha Blondy, Musisi Reggae yang Membawa Nilai-Nilai Perdamaian ke Atas Panggung

Alpha Blondy

INTERNASIONAL, Lombokpedia.id – Kalau nama Bob Marley disebut, hampir semua orang tahu. Reggae. Rambut gimbal. Jamaika. Perdamaian. Perlawanan.

Tetapi di Afrika Barat, ada seorang musisi yang membawa reggae ke tempat yang sedikit berbeda. Ia tidak hanya membawa bass yang berat dan irama yang santai, tetapi juga membawa sesuatu yang lebih rumit: agama, konflik, identitas.

Namanya Alpha Blondy. Ia lahir dengan nama Seydou Koné di Pantai Gading pada 1953. Namun perjalanan hidupnya kemudian membawanya menjadi salah satu ikon reggae Afrika yang paling dikenal di dunia.

Menariknya, Alpha Blondy tidak ingin reggae berhenti sebagai musik untuk bergoyang. Baginya, musik harus membawa pesan. Dan pesan yang ia bawa kadang cukup berani.

Reggae yang lahir dari Afrika, pulang melalui Jamaika

Ada ironi yang indah dalam perjalanan musik Alpha Blondy. Reggae lahir dan berkembang kuat di Jamaika. Namun ketika musik itu sampai ke Afrika, Alpha Blondy merasa menemukan sesuatu yang sebenarnya sudah dekat dengan dirinya.

Ia pernah menggambarkan reggae sebagai musik yang memiliki akar Afrika, pergi jauh, lalu kembali dalam bentuk yang lebih modern. Dan ia benar-benar membawa pulang reggae itu.

Ia memasukkan warna musik Afrika Barat, perkusi Afrika, vokal khas Afrika, dan bahasa-bahasa yang tidak selalu akrab dengan telinga penonton reggae Jamaika. Band pendukungnya, Solar System, juga dikenal memiliki anggota dari berbagai negara dan latar belakang.

Jadi, Alpha Blondy bukan sekadar orang Afrika yang memainkan reggae. Ia membuat reggae kembali bercermin kepada Afrika.

Alpha Blondy dan pelajaran yang sering kita lewatkan

Hari ini, orang mungkin lebih mudah mengenal Alpha Blondy karena lagu-lagu reggae klasiknya. Namun jika hanya berhenti pada musik, kita mungkin kehilangan bagian paling menarik dari dirinya.

Alpha Blondy memperlihatkan bahwa seorang musisi tidak harus memilih antara menjadi seniman atau menjadi manusia yang peduli pada persoalan sosial. Ia bisa melakukan keduanya.

Ia bisa bernyanyi tentang Tuhan tanpa harus mengajak orang membenci agama lain. Ia bisa berbicara tentang Israel tanpa harus meninggalkan kedekatannya dengan dunia Islam. Ia bisa memainkan reggae Jamaika sambil membawa suara Afrika.

Dan ia bisa menggunakan bahasa yang berbeda untuk menyampaikan satu pesan yang sama: manusia mungkin berbeda jalan, tetapi tidak harus saling bermusuhan. Barangkali di situlah kekuatan Alpha Blondy.

Bukan karena ia pernah disebut-sebut sebagai penerus Bob Marley. Melainkan karena ia berhasil membuat reggae menjadi semacam ruang percakapan.

Di dalamnya ada Afrika, Jamaika, Yerusalem, Mekkah, Islam, Kristen, Yahudi, politik, perang, perdamaian, dan tentu saja manusia.

Dan semuanya bertemu dalam satu irama: Reggae. (Red2)

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!