Perjalanan Panjang Nan Berliku Noor Ain Warga Negara Malaysia Membangun Chili House, Lombok

Kisah perjalanan Chili House, sekolah TK gratis yang bermula dari hanya segelintir anak di tengah lockdown Gili Air, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, menghadapi berbagai ujian, hingga kini mendampingi lebih dari 150 anak di Tiga Cabang Sekolah di Lombok.

Noor Ain Hussin bareng beberapa anak di bawah asuhan Chili Community House, Lombok. FOTO: Lombokpedia

LOMBOK, Lombokpedia.id – Saat itu di Gili Air, tahun 2020. Tahun yang kata orang-orang, akan banyak kejadian besar.

Pulau kecil indah itu sedang tidak seramai biasanya. Pandemi COVID-19 membuat aktivitas pariwisata terhenti. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi wisatawan mendadak lengang. Mobilitas terbatas, perjalanan antarnegara terhenti, dan banyak orang asing yang berada di Lombok harus bertahan lebih lama dari yang mereka rencanakan.

Di tengah situasi itulah semuanya bermula.

Noor Ain Hussin, sebenarnya hanya ingin pulang ke negaranya, Malaysia. Namun lockdown membuat keinginan sederhana itu tidak mudah dilakukan.

“Saya tidak bisa pulang ke negara saya,” kenangnya pada Lombokpedia.

Di Gili Air, pengalaman yang tidak menyenangkan kemudian datang. Namun pengalaman itu justru membuka mata pada persoalan yang lebih luas. Ia menemukan bahwa bukan hanya dirinya yang mengalami perlakuan serupa. Ada perempuan-perempuan lain, termasuk para terapis, yang ternyata memiliki cerita masing-masing.

Mereka mulai bercerita pada Ain.

Dari satu percakapan ke percakapan berikutnya, beberapa perempuan yang lain datang menyampaikan pengalaman dan persoalan yang mereka hadapi. Ada kegelisahan yang sama: bagaimana perempuan bisa berani bersuara, berdiri sendiri, dan sekaligus memastikan anak-anak mereka memiliki masa depan yang lebih baik?

Dari kegelisahan itulah sebuah gagasan mulai tumbuh.

“Saya berpikir ingin sekali membantu perempuan-perempuan ini dan anak-anak mereka. Mereka harus berani bersuara dan mandiri.”

Awalnya, gagasan tersebut memang ditujukan untuk membantu perempuan dan anak-anak. Tetapi dalam perjalanan, ia menemukan sebuah persoalan yang menurutnya jauh lebih mendasar.

Mengubah cara berpikir orang dewasa yang sudah terbentuk bukan perkara mudah.

Karena itu, ia memilih jalan yang berbeda: memulai dari anak-anak.

Bukan menunggu mereka tumbuh dewasa kemudian mengubah pola pikirnya, tetapi menanamkan keberanian, rasa percaya diri, kemandirian, dan kemampuan menyampaikan pendapat sejak usia dini.

Dari sanalah arah gerakan itu perlahan berubah. Yang semula ingin menjadi ruang perlindungan bagi perempuan dan anak, kemudian berkembang menjadi sebuah ruang pendidikan anak.

Berawal dari Ruangan Dari Bahan Bekas Gempa dan Beberapa Anak

Tidak ada gedung sekolah megah ketika semuanya dimulai. Tidak ada ruang kelas dengan fasilitas lengkap. Tidak ada mesin fotokopi besar atau buku pelajaran yang tersusun rapi di rak. Ruangan bahkan didirikan dari bekas-bekas bangunan yang terkena gempa Lombok 2018.

Yang ada hanyalah niat, sejumlah anak, dan kemampuan yang terbatas.

Pada awalnya, ada sekitar 20-an anak yang bergabung. Mereka belajar menggunakan lembar kerja atau worksheet yang dicetak dari selembar kertas.

Semua berjalan secara swadaya. Uang dikumpulkan seadanya. Kebutuhan dibicarakan bersama. Apa yang bisa dibeli, dibeli. Apa yang belum mampu disediakan, dicari jalan keluarnya.

Ia sendiri tidak memiliki latar belakang sebagai seorang pendidik. Namun ada keyakinan sederhana yang menjadi pegangan. Untuk membentuk anak yang hebat, pendidikan harus dimulai dari lingkungan terdekat mereka—terutama dari seorang ibu.

“Sebagaimana aku ingin anakku menjadi seperti apa, begitulah aku mengatur anak-anak di sini.”

Maka proses belajar pun dimulai. Tidak semuanya langsung berhasil. Ada banyak percobaan, kesalahan, evaluasi, lalu mencoba lagi.

Ketika seorang anak mulai mampu memahami matematika, pelajaran berikutnya dikembangkan. Ketika kemampuan mereka meningkat, bahasa Inggris mulai diperkenalkan. Teknik pembelajaran matematika diperbaiki. Berbagai metode dicoba dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.

Tidak ada formula yang langsung jadi. Semuanya tumbuh melalui proses. Dan justru dari proses itulah identitas lembaga pendidikan tersebut mulai terbentuk.

Donasi Pertama dan Sebuah Printer

Perkembangan kecil itu rupanya mulai diperhatikan orang lain.

Seorang turis asing yang melihat kegiatan mereka merasa tertarik dengan apa yang dilakukan. Ia kemudian memberikan donasi sebesar Rp15 juta. Bagi sebuah lembaga yang saat itu masih berjalan dengan dana seadanya, jumlah tersebut bukan angka kecil. Dana itu tidak digunakan untuk membangun sesuatu yang mewah.

Sebagian digunakan membeli printer, alat tulis kantor, alat peraga, dan berbagai kebutuhan pembelajaran. Printer menjadi salah satu benda penting dalam perjalanan awal tersebut. Sebab sejak saat itu, lembar-lembar pembelajaran dapat diproduksi sendiri.

Sedikit demi sedikit, ruang belajar yang sederhana mulai menemukan bentuknya. Namun perjalanan mereka ternyata tidak akan berjalan mulus. Keberadaan mereka di Gili Air tidak berlangsung lama.

Tanah yang sebelumnya dihibahkan untuk kegiatan tersebut kemudian ditarik kembali oleh pihak yang awalnya mengajak bekerja sama. Menurut penuturan ‘Ain, perubahan sikap itu terjadi setelah melihat perkembangan proyek dan munculnya dana dari para donatur.

Mereka menolak menyerahkan dana tersebut. Alasannya sederhana: uang itu bukan milik pribadi, melainkan untuk kebutuhan operasional dan anak-anak. Konsekuensinya, mereka harus meninggalkan tempat tersebut.

Mereka kemudian berpindah ke Gili Trawangan. Ruang yang tersedia jauh lebih kecil. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut mereka tinggalkan: anak-anak.

Di tempat baru itu, anak-anak lokal justru menunjukkan antusiasme yang besar. Ruang belajar yang sempit perlahan kembali dipenuhi aktivitas. Apa yang sebelumnya hanya berupa kegiatan les mulai berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar.

Buku pelajaran mulai disusun sendiri. Matematika menjadi salah satu titik awal. Kemudian berkembang ke berbagai mata pelajaran lain. Dari lembar kerja sederhana, mereka mulai menyusun sistem pembelajaran sendiri.

Dan dari ruang kecil di tengah pulau wisata itulah, sebuah gagasan pendidikan perlahan menemukan bentuknya—sebuah gagasan yang kelak tidak hanya berbicara tentang bagaimana anak bisa berhitung, membaca, atau menulis, tetapi juga bagaimana mereka tumbuh menjadi manusia yang berani bersuara..

Ketika Ruang Belajar Menjadi Sebuah Gagasan

Dari lembar kerja sederhana, mereka mulai bertanya lebih jauh: bukan hanya bagaimana membuat anak pintar, tetapi bagaimana membuat anak percaya bahwa ia mampu.

Di sebuah ruang belajar yang tumbuh jauh dari kemewahan sekolah formal, pelajaran matematika perlahan mendapatkan wajah baru.

Anak-anak tidak lagi sekadar diminta menyelesaikan soal. Mereka diajak memahami tahapan demi tahapan. Jika mampu menyelesaikan lembar pertama, mereka bergerak ke lembar berikutnya. Jika tersendat pada lembar ketiga, proses belajar tidak langsung dianggap gagal. Justru di situlah mereka mencari tahu bagian mana yang belum dipahami.

Cara sederhana itu melahirkan sebuah keyakinan: anak tidak boleh dibuat merasa bodoh hanya karena belum bisa. Sebab ketika seorang anak mulai berkata, “Aku bisa mengerjakan ini,” ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar jawaban matematika yang benar.

Kepercayaan diri sedang tumbuh. Di tempat itu, matematika sebisa mungkin tidak dibuat sebagai pelajaran yang menakutkan. Ia harus terasa menyenangkan. Prinsip itulah yang kemudian menjadi salah satu fondasi dalam penyusunan buku-buku pembelajaran mereka.

Buku yang Tidak Ingin Membuat Anak Menjadi Pengikut

Bagi ‘Ain, persoalan pendidikan bukan semata-mata tentang seberapa banyak buku yang dimiliki anak. Ia justru mempertanyakan bagaimana buku itu dirancang.

Menurutnya, sebagian buku sekolah dasar lebih banyak mendorong anak untuk mengikuti instruksi daripada belajar menjadi pribadi yang mandiri. Bahkan, buku kelas 1 SD bisa saja sudah dipenuhi teks, sementara anak yang baru masuk sekolah belum memiliki kemampuan membaca yang memadai.

Pertanyaan itu kemudian menjadi alasan untuk menyusun buku sendiri.

Buku-buku tersebut dibuat secara bertahap, dari tingkat yang paling mudah menuju tingkat yang lebih sulit. Anak tidak dipaksa melompat terlalu jauh. Satu kemampuan menjadi dasar bagi kemampuan berikutnya.

Dengan pendekatan seperti itu, kesulitan seorang anak dapat dilacak. Jika ia gagal mengerjakan bagian ketiga, guru dapat melihat kembali bagian kedua. Barangkali ada konsep yang belum benar-benar dipahami.

“Bukan anaknya yang buru-buru dianggap tidak mampu. Metodenya yang semestinya diperiksa kembali.” terangnya.

Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi penulisan buku pendidikan berjenjang (levelled Book) dari TK kemudian kelas 1 hingga kelas 6 SD. Pada awalnya, buku-buku itu bahkan masih dibuat dengan cara yang sangat sederhana: dicetak, dilipat, dan digunakan sendiri.

Belum ada jasa printing house profesional. Biayanya terlalu mahal. Namun keterbatasan itu tidak menghentikan mereka.

Buku yang sederhana tersebut justru menjadi bagian penting dari sistem homeschooling yang mereka jalankan, termasuk untuk matematika dan Bahasa Indonesia.

Pandemi yang Mengubah Cara Belajar

Pandemi tidak hanya menjadi titik awal berdirinya gerakan tersebut. Ia juga menjadi masa ketika kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan alternatif semakin terasa.

Ketika sejumlah taman kanak-kanak di sekitar lokasi harus berhenti beroperasi, para orang tua mulai bertanya.

Mengapa tidak membuka jenjang TK?

Pertanyaan itu akhirnya dijawab dengan membuka kelas untuk anak-anak usia dini. Dari sini, gagasan pendidikan mereka semakin melebar.

Anak tidak lagi hanya datang untuk belajar beberapa mata pelajaran. Ruang tersebut mulai berkembang menjadi lingkungan tempat anak bermain, belajar, mengikuti perlombaan, mengerjakan tugas, dan mengenal berbagai pengalaman baru. Sementara di luar ruang kelas, kegiatan sosial juga berjalan.

Selama pandemi, mereka membagikan beras kepada warga lokal setiap bulan selama hampir dua tahun. Kemampuan yang mereka miliki memang terbatas, tetapi ada satu hal yang terus dijaga: keberadaan mereka harus memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Bukan Satu Kurikulum, Melainkan Banyak Jalan

Noor Ain Hussin selalu menyebut dirinya sebagai “emak-emak”. Walaupun secara akademik ia sendiri telah menggondol gelar Master di bidang International Business dan doctoral P.hD di bidang Psikologi Anak. Keduanya diraih di universitas di Australia.

Ini bukan untuk mengecilkan perjalanan akademiknya melainkan untuk menggambarkan satu sikap: tetap belajar.

Di tempat yang kemudian dikenal sebagai Chili House, proses belajar tidak berhenti pada anak-anak. Pengajarnya pun terus belajar.

Mereka mencoba berbagai pendekatan pendidikan dari berbagai negara. Bukan untuk menyalin satu sistem secara utuh, melainkan mengambil bagian yang dianggap sesuai dengan kebutuhan anak.

Untuk matematika, mereka menggunakan pendekatan dari India. Untuk kebersihan, kedisiplinan, dan karakter, mereka mengambil pendekatan Jepang. Sementara untuk pengembangan motorik dan sensorik, mereka menggunakan metode Montessori dari Italia.

Dengan demikian, tidak ada satu kurikulum yang berdiri sendirian. Mereka menyusun sebuah pendekatan yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi anak-anak yang mereka dampingi.

“Jadi, kami tidak sekadar mengadopsi satu metode secara mentah-mentah,” demikian gagasan yang menjadi dasar pendekatan tersebut. Mereka melihat kebutuhan anak, menguji metode, kemudian mengevaluasinya kembali.

Kumpulan pendekatan tersebut kemudian dirumuskan dalam apa yang mereka sebut sebagai Kurikulum Bumi Kartini, di bawah Yayasan Bumi Kartini. Yang nantinya ini juga akan memayungi Chili House. Nama itu dipilih sebagai penghormatan kepada R.A. Kartini.

“Aku suka sekali dengan R.A Kartini. Nilai-nilai yang dibawanya, itu sebab aku namakan ini Bumi Kartini.” ujar ‘Ain.

Hal ini sekaligus membawa filosofi “Bumi” yang dimaknai sebagai sesuatu yang membumi: dekat dengan masyarakat, tidak sombong, dan tidak narsis. Kurikulum ini kemudian menjadi identitas pendidikan mereka—sebuah upaya untuk tidak hanya membuat anak mampu membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga tumbuh sebagai pribadi yang percaya diri, mandiri, berani menyampaikan pendapat, serta memiliki keterampilan untuk menghadapi kehidupan nyata.

Pendidikan Sebagai Sebatang Pohon

Konsep itu kemudian mereka ibaratkan seperti sebuah pohon.

Pendidikan memiliki akar, batang, dan buah. Akar adalah stimulasi sensorik dan motorik. Pada tahap ini, anak dibantu mengembangkan kemampuan motorik kasar, motorik halus, kognitif, dan bahasa.

Batangnya adalah kemampuan akademik: membaca, menulis, dan berhitung. Sementara buahnya adalah kemampuan hidup dan pengalaman yang diperoleh anak dari berbagai aktivitas.

Dalam pendekatan Chili House, usia empat tahun menjadi masa untuk memperkuat sensorik dan motorik melalui metode Montessori.

Pada usia lima tahun, anak mulai dilatih menulis huruf besar, huruf kecil, serta angka dengan lebih rapi. Proses itu tidak dikejar dalam hitungan minggu. Mereka memberi waktu hingga satu tahun agar kemampuan tersebut benar-benar matang.

Targetnya sederhana tetapi ambisius: sebelum memasuki sekolah dasar, anak diharapkan telah menguasai kompetensi yang setara dengan kelas 1 SD.

Bukan agar anak merasa paling pintar. Melainkan agar ia memasuki dunia sekolah dengan rasa percaya diri. Di sinilah pendidikan mereka mulai bergerak dari sekadar “mengajar” menjadi “mempersiapkan”.

Belajar Tidak Berhenti di Dalam Kelas

Namun anak-anak tidak hanya belajar dari buku. Ada makan siang. Ada kebun. Ada kegiatan luar ruangan. Ada proyek akhir.

Makan siang gratis bahkan telah dijalankan selama enam tahun. Di meja makan, anak-anak tidak hanya diberi makanan, tetapi juga diajarkan untuk bersyukur, tertib, dan menghabiskan makanan sesuai dengan nilai kedisiplinan yang mereka terapkan.

Kemudian ada Project-Based Learning. Anak usia 6–7 tahun mulai diperkenalkan pada kegiatan membuat kerajinan tangan yang dapat dijual.

Ketika memasuki usia 8–9 tahun, mereka mulai mengenal posting, rancangan pemasaran, dan riset pasar. Pada usia 10–11 tahun, cakupannya semakin jauh. Anak mulai diajak melakukan riset dan mengerjakan proyek nyata, termasuk membuat buku tentang penelitian mengenai pulau tempat mereka tinggal.

Dengan cara itu, belajar tidak berhenti pada pertanyaan “berapa hasilnya?”

Anak juga diajak bertanya: Apa yang bisa saya buat? Siapa yang membutuhkan? Bagaimana cara menjualnya? Bagaimana cara meneliti lingkungan saya?

Dan, yang paling penting, bagaimana saya bisa menyampaikan apa yang saya pikirkan? Gagasan tersebut sesungguhnya kembali kepada cita-cita yang melahirkan lembaga ini pada awalnya: membentuk anak yang tangguh, percaya diri, mandiri, dan berani bersuara.

Dari 23 anak dengan lembar kerja yang dicetak seadanya, mereka perlahan sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sebuah ruang les.

Sebuah sistem pendidikan. Dan seperti sebuah pohon, semakin tinggi ia tumbuh, semakin kuat pula ia membutuhkan akar. Namun pertumbuhan itu tidak datang tanpa gangguan. Ketika mereka mulai membesar, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana mendidik anak.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih rumit:

Bagaimana mempertahankan sebuah sekolah yang tumbuh di tengah masyarakat, ketika cara mereka mendidik mulai berhadapan dengan berbagai pandangan, kepentingan, dan kecurigaan?

Bertahan Setelah Berkali-kali Diuji

Tiga tahun di Gili Trawangan membawa mereka pada fase baru. Dari tuduhan hingga pengusiran, perjalanan itu akhirnya mengantarkan mereka ke Tanjung dan melahirkan Rumah Lombok—sebuah upaya membangun sekolah yang tidak bergantung sepenuhnya pada donasi.

Pertumbuhan sebuah lembaga pendidikan tidak selalu berjalan seperti garis lurus. Lebih-lebih untuk lembaga pendidikan gratis, seperti Chiil House.

Ada saat ketika jumlah anak bertambah, buku semakin banyak, dan metode pembelajaran mulai menemukan bentuknya. Tetapi ada pula saat ketika mereka harus meninggalkan tempat yang telah dibangun dengan susah payah.

Setelah sekitar tiga tahun berkembang di Gili Trawangan, perjalanan mereka kembali diuji.

Berbagai persoalan sosial dan kelembagaan muncul. Mereka menghadapi tuduhan terkait dokumentasi kegiatan anak, persoalan izin operasional, hingga perbedaan pandangan mengenai sejumlah kegiatan yang dilakukan bersama anak-anak.

Salah satu tuduhan yang muncul adalah eksploitasi anak dan penggalangan dana. Dokumentasi kegiatan murid yang dibagikan di media sosial dianggap sebagai bentuk “menjual anak”.

Padahal, menurut penjelasan pengelola, dokumentasi tersebut dibuat agar orang tua dapat melihat perkembangan anak-anak mereka. Mereka juga menegaskan tidak melakukan penggalangan dana atas nama para siswa melalui dokumentasi tersebut.

Persoalan lain datang dari aspek legalitas. Akta yayasan ternyata tidak dianggap cukup untuk menjalankan seluruh kegiatan pendidikan dan sosial yang mereka lakukan. Mereka kemudian harus mengurus perizinan melalui instansi terkait.

Namun tantangan tidak berhenti pada urusan administrasi. Perbedaan pandangan juga muncul dalam kegiatan-kegiatan yang sebenarnya dimaksudkan sebagai bagian dari pembelajaran dan pengenalan budaya.

Ketika Kegiatan Anak Menjadi Persoalan

Salah satu kegiatan yang kemudian dipersoalkan adalah Halloween.

Kegiatan berbagi jajanan atau trick or treat yang dilakukan bersama anak-anak berujung pada sidang desa karena dianggap mengajarkan pemujaan setan.

Kegiatan Hari Ibu dan memberi ucapan selamat Natal juga pernah dipersoalkan. Bagi pengelola, hal-hal tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan anak pada kehidupan sosial, keberagaman, dan nilai kemanusiaan.

Tetapi di tengah masyarakat, sebuah kegiatan pendidikan bisa dibaca dengan cara yang berbeda. Perbedaan cara pandang itulah yang kemudian menjadi salah satu bagian paling berat dalam perjalanan mereka.

Ada pula persoalan mengenai metode pendidikan.

Metode Montessori yang mereka berikan secara gratis pernah mendapat penolakan dari pengelola sekolah lain. Salah satu alasannya, metode tersebut dianggap sebagai metode mahal—di Jakarta bahkan disebut dapat mencapai sekitar Rp5 juta per bulan—atau dicurigai membawa misi tertentu.

Padahal, bagi mereka, metode tersebut justru ingin dibuat dapat diakses oleh anak-anak lokal. Gratis. Terjangkau. Dan sebisa mungkin tidak membedakan latar belakang keluarga.

Dari Pengusiran ke Bangunan Tua

Konflik akhirnya membuat mereka kembali berpindah. Mereka sempat menempati sebuah bangunan tua di Teluk Dalam yang sudah bertahun-tahun tidak digunakan.

Tidak ada cara lain selain memulai lagi. Bangunan dibersihkan. Dinding dicat. Lingkungan ditata.

Mereka bergotong royong mengubah bangunan yang sebelumnya terbengkalai menjadi tempat belajar. Perlahan, ruang itu kembali hidup. Namun intimidasi belum sepenuhnya berhenti.

Menurut penuturan pengelola, pernah terjadi demonstrasi dan upaya penyegelan sekolah secara sepihak tanpa berita acara resmi.

Dalam situasi tersebut, mereka memilih jalan yang lebih kooperatif. Proses perizinan kembali ditempuh. Tokoh-tokoh daerah dirangkul. Nama institusi pun kemudian disesuaikan menjadi Rumah Lombok yang juga tiada lain adalah bermakna Chili House dalam bahasa Indonesia.

Nama itu seolah menjadi penanda sebuah fase baru. Bukan lagi sekadar tentang tempat. Tetapi tentang upaya menjadikan lembaga tersebut sebagai bagian dari lingkungan tempat mereka hidup.

Dari 20-an Menjadi 150 Anak

Jika mengingat kembali titik awalnya, angka-angka itu terasa seperti sebuah perjalanan panjang. Dulu sekitar 20–24 anak. Kini sekitar 150 anak. Bahkan daftar tunggu murid disebut telah mencapai tahun 2028.

Pertumbuhan tersebut membawa konsekuensi yang tidak kecil. Setiap bulan, kebutuhan operasional mencapai sekitar Rp115 juta. Gaji guru harus dibayar.

Kegiatan belajar harus berjalan. Tempat harus dirawat. Buku dan alat pembelajaran harus tersedia. Semua membutuhkan biaya.

Dan di sinilah muncul pertanyaan besar yang sejak awal sebenarnya selalu mengikuti perjalanan mereka:

Bagaimana sekolah gratis bisa terus bertahan?

Jawabannya adalah kemandirian. Sekolah Gratis yang Membiayai Dirinya Sendiri Mereka mencoba membangun sistem subsidi silang.

Saat ini terdapat tiga lokasi atau cabang yang disebut dalam sistem tersebut: Gili Trawangan, Teluk Dalam, dan Mataram.

Ada layanan yang berbayar. Anak-anak wisatawan atau warga asing dapat mengikuti kelas privat. Ada pula layanan daycare dan berbagai layanan pendidikan lainnya.

Pendapatan dari layanan tersebut kemudian digunakan untuk menopang pendidikan gratis bagi anak-anak lokal. Dengan model tersebut, mereka berusaha mengubah cara pandang tentang sekolah gratis. Gratis bukan berarti tidak membutuhkan biaya.

Gratis berarti biaya tersebut dicari melalui sistem lain agar anak yang tidak mampu tetap dapat belajar. Model itu juga membuka ruang bagi program inklusi.

Anak-anak berkebutuhan khusus, termasuk anak dengan Down Syndrome, turut mendapatkan pendampingan melalui terapi dan pembelajaran yang terstruktur. Targetnya bukan sekadar membuat mereka hadir di ruang belajar, tetapi membantu mereka mencapai kemampuan nyata, termasuk membaca dan menulis.

Ada pula program (yang segera dilaunching) yang mereka namakan: “TK Rp20.000”.

Gagasannya sederhana: pendidikan berkualitas tidak seharusnya hanya dapat dinikmati keluarga dengan kemampuan ekonomi tertentu.

Melalui biaya yang sangat terjangkau, anak-anak diharapkan tetap bisa memperoleh pendidikan yang memadukan Montessori, Bahasa Inggris, dan modul pembelajaran yang mereka kembangkan sendiri.

Sebuah Rumah yang Ingin Tetap Berdiri

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan lagi sekadar tentang sebuah yayasan. Bukan pula hanya tentang metode Montessori, matematika dari India, kedisiplinan Jepang, atau buku-buku yang dicetak sendiri.

Di balik semuanya terdapat satu gagasan yang sejak awal tidak berubah: anak-anak harus tumbuh menjadi manusia yang percaya pada dirinya sendiri. Berani berbicara. Berani mempertahankan diri. Berani mencoba.

Dan suatu hari nanti, mampu berdiri tanpa harus selalu bergantung kepada orang lain. Itulah sebabnya pendirinya tidak ingin membangun lembaga yang hanya bergantung pada dirinya.

Ia justru ingin membangun sistem. Sebuah sistem yang tetap berjalan meskipun suatu hari dirinya tidak lagi berada di sana.

“Jika suatu saat saya telah tiada, Chili House akan tetap berdiri dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.” ujarnya.

Kalimat itu mungkin menjadi cara paling sederhana untuk memahami seluruh perjalanan Rumah Lombok (Chili House). Sebab semuanya memang berawal dari keinginan membantu. Kemudian berubah menjadi ruang belajar. Ruang belajar berkembang menjadi sekolah.

Sekolah berkembang menjadi sebuah sistem. Dan sistem itu kini sedang diuji untuk menjawab satu pertanyaan yang jauh lebih besar daripada berapa jumlah murid yang mereka miliki:

Apakah sebuah gerakan pendidikan yang lahir dari keterbatasan dapat bertahan cukup lama untuk mengubah generasi?

Di situlah perjalanan mereka belum selesai. Sebab 150 anak bukanlah garis akhir.

Begitu pula daftar tunggu hingga 2028, tiga lokasi, buku-buku yang telah disusun, ataupun ruang-ruang kelas yang telah dibangun.

Semua itu hanyalah penanda bahwa sebuah gagasan kecil yang lahir di tengah lockdown Gili Air pada 2020 ternyata mampu berjalan jauh.

Dari selembar worksheet. Dari 23 anak. Dari sebuah printer hasil donasi. Dari ruang kecil di Gili Trawangan. Dari bangunan tua yang dibersihkan dengan tangan sendiri.

Hingga akhirnya menjadi sebuah rumah. Rumah bagi anak-anak yang sedang belajar membaca dunia—dan, perlahan, belajar menemukan suara mereka sendiri.

(Liputan khusus Pendidikan Lombokpedia.id)

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!