Pantai Labuhan Haji Lagi-Lagi Jadi Tempat Bolos Puluhan Pelajar, Pengawasan ke Mana?

LOMBOK TIMUR, Lombokpedia.id – Seragam sekolah mestinya menjadi tanda bahwa hari itu ada pelajaran yang harus diikuti. Namun, di kawasan Pantai Labuhan Haji dan Suryawangi, puluhan pelajar justru terlihat menikmati jam belajar di tepi pantai.
Ironisnya, mereka datang masih mengenakan seragam lengkap.
Pemandangan itu ditemukan petugas Polisi Pamong Praja (Pol.PP) Kecamatan Labuhan Haji saat melakukan patroli, Senin (24/8). Sekitar 50 pelajar SMP, SMA hingga SMK ditemukan berada di kawasan tersebut saat seharusnya mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Sebagian besar pelajar datang menggunakan sepeda motor dan berboncengan dengan teman mereka.
Begitu mengetahui kedatangan petugas, sebagian pelajar langsung memilih kabur. Sementara yang berhasil diamankan dikumpulkan di satu tempat untuk diberikan arahan dan peringatan.
“Jumlahnya sekitar 50 orang, tapi banyak yang melarikan diri saat mengetahui petugas datang,” kata Kasi Ketertiban Umum Kecamatan Labuhan Haji, Akmal Moestopo saat dikonfirmasi.
Pelajar yang ditemukan tersebut diketahui tidak hanya berasal dari sekolah di Kecamatan Labuhan Haji. Beberapa di antaranya berasal dari wilayah Kecamatan Sakra, Sakra Timur hingga Kecamatan Selong.
Ketika ditanya satu per satu, para pelajar memberikan beragam alasan mengapa mereka tidak berada di sekolah saat jam belajar berlangsung.
Yang membuat persoalan ini menjadi sorotan, kawasan Pantai Labuhan Haji dan Suryawangi ternyata bukan kali pertama dijadikan tempat “pelarian” oleh pelajar saat jam sekolah.
Akmal mengatakan, setiap kali petugas melakukan patroli di kawasan pantai, hampir selalu ditemukan pelajar yang berkeliaran dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
“Memang kawasan Pantai Labuhan Haji dan Suryawangi kerap kali dijadikan tempat membolos pelajar,” ujarnya.
Menurut Akmal, pola yang terjadi pun nyaris sama. Pelajar datang menggunakan sepeda motor, berkumpul bersama teman, kemudian langsung berhamburan ketika melihat petugas.
“Tapi saat melihat kami langsung berhamburan menggunakan sepeda motor,” tandasnya.
Kondisi ini sekaligus memunculkan pertanyaan lain. Jika kawasan pantai tersebut sudah berulang kali menjadi tempat pelajar membolos, mengapa persoalan serupa masih terus muncul?
Patroli memang dilakukan. Namun, pola yang sama rupanya belum juga berubah. Puluhan pelajar kembali ditemukan berada di pantai pada jam sekolah.
Artinya, persoalan ini tidak cukup hanya diselesaikan ketika petugas datang dan menemukan pelajar yang sedang membolos.
Pengawasan sejak dari sekolah dan rumah menjadi bagian penting yang tak bisa dilepaskan. Sebab, para pelajar tersebut bisa meninggalkan sekolah, membawa sepeda motor, bahkan berkumpul cukup jauh dari lingkungan sekolah tanpa diketahui hingga akhirnya ditemukan petugas.
Akmal pun meminta pihak sekolah dan orang tua memperketat pengawasan terhadap anak didiknya.
Ia berharap orang tua memastikan anak-anak mereka benar-benar berangkat dan mengikuti kegiatan belajar di sekolah, bukan justru berakhir di kawasan pantai saat jam pelajaran berlangsung.
Sebab, pantai seharusnya menjadi tempat menikmati angin laut setelah kewajiban selesai. Bukan menjadi “kelas alternatif” ketika bel sekolah masih berbunyi.
Dan ketika tempat yang sama berkali-kali menjadi lokasi pelajar membolos, yang perlu diperkuat bukan hanya patroli, tetapi juga sistem pengawasan sebelum mereka sampai ke sana. (Red2)
