Dari Kuala Lumpur, Menyeberang ke Lombok dan Menemukan Alasan Baru untuk Hidup Menjadi Pendidik

Pernah Berdo’a Agar Dijadikan Seorang Pendidik

Founder Chili Community House, Noor Ain Hussin.

MATARAM, Lombokpedia.id – Ada orang yang datang ke Lombok untuk mencari matahari, laut, dan ketenangan. Ada pula yang datang karena pekerjaan, bisnis, atau sekadar ingin tinggal lebih lama di pulau yang selalu punya cerita.

Noor Ain Hussin datang dengan jalan yang berbeda. Perempuan asal Kuala Lumpur, Malaysia, itu pada akhirnya justru menemukan sebagian jawaban tentang hidupnya di tengah masyarakat dan anak-anak di Lombok.

Di kalangan komunitas, namanya lebih akrab dipanggil Ain. Anak-anak bahkan memanggilnya Tante Ain, sebuah panggilan yang terdengar sederhana, tetapi kemudian menjadi begitu dekat dengan sosok perempuan yang selama bertahun-tahun mengabdikan dirinya pada anak-anak dan masyarakat.

Ain menggambarkan dirinya sebagai perempuan yang kuat, mandiri dan tegas. Ia percaya bahwa hidup tidak selalu menyediakan jalan yang mudah, sehingga tantangan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang harus dihadapi. “Saya gigih pada apa yang saya yakini, teguh saat memiliki tujuan, dan mandiri dalam cara saya membangun hidup serta mengambil keputusan,” katanya dalam portofolionya.

Latar belakangnya pun tidak sesederhana yang mungkin dibayangkan dari pekerjaannya sekarang. Ain pernah menempuh pendidikan Travel and Hotel Management, kemudian melanjutkan studi di bidang International Business dan Psikologi hingga meraih PhD di bidang Psikologi Anak. Perjalanan akademik yang melintasi banyak bidang itu kemudian membentuk caranya melihat manusia, komunitas, organisasi, dan terutama anak-anak.

Tetapi gelar akademik bukan bagian paling menarik dari perjalanan hidupnya. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam yang membentuk perempuan ini: pengalaman hidup yang penuh pasang surut.

Ain mengakui pernah membuat kesalahan dan mengambil keputusan yang jika diberi kesempatan mungkin akan ia lakukan secara berbeda. Namun ia tidak memilih untuk hidup dengan penyesalan. “Saya tidak menyesali masa lalu saya, karena semua yang saya lalui membentuk siapa saya sekarang,” ujarnya.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi menyimpan perjalanan yang panjang. Sebab sebelum berbicara tentang pendidikan, sekolah, anak-anak dan komunitas, Ain terlebih dahulu harus melewati perjalanan untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Bertahun-tahun ia menjalani hidup sebagaimana banyak orang lain: bekerja, mengejar keberhasilan, bertahan hidup dan membangun sesuatu untuk dirinya sendiri. Sampai kemudian sebuah pengalaman yang sangat berat mengubah cara pandangnya terhadap hidup.

Ain mengungkapkan bahwa ia pernah menjadi korban pelecehan seksual. Pengalaman itu ia sebut sebagai salah satu pengalaman paling menyakitkan dalam hidupnya, tetapi pada saat yang sama justru memaksanya berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri tentang sesuatu yang lebih besar: untuk apa sebenarnya hidup ini dijalani?

Pertanyaan itu kemudian menggeser pusat kehidupannya. Jika sebelumnya ia lebih banyak berpikir tentang apa yang ingin dicapai untuk dirinya sendiri, setelah pengalaman tersebut ia mulai memikirkan apa yang bisa ia ubah untuk orang lain.

Dari sana, perhatian Ain perlahan mengarah kepada perempuan dan anak-anak. Ia melihat bahwa korban kekerasan seksual sering kali tidak mudah berbicara karena takut kepada pelaku, takut dihakimi keluarga atau masyarakat, bahkan takut disalahkan atas apa yang terjadi pada dirinya.

Dari pengalaman itulah lahir keyakinan yang kemudian terus ia bawa sampai sekarang. Menurut Ain, perlindungan terhadap anak dan perempuan tidak seharusnya baru dimulai setelah sesuatu yang buruk terjadi.

“Perlindungan tidak bisa hanya dimulai setelah sesuatu yang buruk terjadi. Perlindungan harus dimulai jauh lebih awal. Perlindungan dimulai dari pendidikan,” katanya.

Ia ingin anak-anak tumbuh dengan pengetahuan tentang dirinya sendiri, memahami batasan, memiliki keberanian untuk bersuara dan tahu bahwa suara mereka memiliki arti. Lebih dari itu, Ain ingin mereka mampu melindungi diri sendiri sekaligus berani membela orang lain.

Barangkali di situlah perubahan besar dalam hidup Ain bermula. Ia tidak lagi hanya bertanya tentang bagaimana dirinya bisa berhasil, tetapi mulai bertanya tentang bagaimana hidupnya bisa berarti bagi orang lain.

Dan Lombok kemudian menjadi salah satu tempat di mana pertanyaan itu menemukan jawabannya.

Ketika Orang Lebih Dulu Menilai Tato daripada Melihat Hatinya

Ada satu hal yang membuat perjalanan Ain semakin menarik. Ketika sebagian orang melihat seorang perempuan dengan latar akademik dan pengalaman panjang, mereka mungkin membayangkan sosok pendidik yang rapi, konservatif dan tampil seperti kebanyakan orang yang bekerja di dunia pendidikan.

Ain datang dengan gambaran yang berbeda.

Tubuhnya dipenuhi tato. Penampilannya tidak selalu sesuai dengan bayangan sebagian orang tentang bagaimana seorang pendiri sekolah atau pendidik seharusnya terlihat. Dan karena itulah, sebelum orang mengenal pekerjaannya, sebagian sudah lebih dulu membentuk penilaian tentang dirinya.

Ain tidak menutupi kenyataan itu. Ia justru menceritakannya sebagai salah satu bab paling berat dalam perjalanan membangun kehidupannya di Lombok.

“Penampilan saya tidak sesuai dengan bayangan orang tentang seorang pendiri sekolah atau pendidik,” katanya. Ia mengaku memiliki banyak tato yang menutupi sebagian besar tubuhnya, sesuatu yang membuat sebagian orang langsung mempertanyakan siapa dirinya dan apa sebenarnya niatnya.

Penolakan yang ia terima bukan sekadar bisik-bisik. Ia menyebut pernah menghadapi demonstrasi, ujaran kebencian, tuduhan dan berbagai bentuk penolakan, bahkan sebelum orang-orang tersebut benar-benar memahami apa yang sedang ia bangun.

Di sisi lain, hidupnya juga tidak sedang berada dalam kondisi yang nyaman. Ain mengaku pernah tidak memiliki penghasilan yang stabil, sementara ia harus tetap mempertahankan apa yang sudah dibangun. Tekanan finansial bertemu dengan kritik publik dan persoalan pribadi, membuat periode tersebut menjadi salah satu masa paling sulit dalam hidupnya.

Tetapi justru dari masa sulit itu ia belajar sesuatu yang kemudian menjadi bagian penting dari karakternya.

Ia belajar bahwa tidak semua penilaian orang harus dilawan. Tidak semua tuduhan harus dijawab. Dan tidak semua energi perlu dihabiskan untuk meyakinkan orang yang memang sudah memilih untuk tidak percaya.

“Saya belajar untuk percaya pada apa yang saya kerjakan dan membiarkan waktu serta tindakan yang berbicara untuk saya,” ujarnya.

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu gambaran paling tepat tentang Ain. Ia tidak berusaha menjadi seseorang yang disukai semua orang.

Ia tahu, orang akan selalu mempunyai penilaian masing-masing. Ada yang menghargai apa yang dikerjakannya, ada yang tidak setuju, dan ada pula yang mungkin tidak pernah benar-benar memahami dirinya. Bagi Ain, semua itu bagian dari kehidupan yang tidak bisa dikendalikan.

“Orang akan membentuk opini mereka sendiri tentang saya,” katanya. “Sebagian akan menghargai apa yang telah saya lakukan, sebagian mungkin tidak setuju, sebagian mungkin mengingat saya, dan kebanyakan mungkin tidak.”

Lalu ia mengatakan sesuatu yang terdengar sangat sederhana, tetapi sekaligus menunjukkan bagaimana ia memandang hidup.

“Tidak apa-apa. Saya tahu mengapa saya melakukan ini.”

Mungkin karena itu Ain tidak terlalu tertarik membangun citra tentang dirinya. Ia lebih memilih membangun sesuatu yang menurutnya memiliki manfaat, lalu membiarkan waktu menentukan bagaimana orang akan menilainya.

Ada sisi lain dari Ain yang juga menarik. Ia tidak melihat dirinya sebagai seseorang yang sejak awal sudah tahu persis ke mana hidup akan berjalan. Sebaliknya, ia mengakui bahwa dirinya pernah salah langkah, pernah mengalami masa sulit dan pernah harus kembali mencari arah.

Namun ia tidak melihat semua itu sebagai bagian hidup yang harus disembunyikan. Masa lalu justru dianggap sebagai bahan yang membentuk dirinya hari ini.

Di situlah barangkali kekuatan Ain bukan terletak pada kesempurnaan. Ia justru tumbuh dari kemampuan untuk mengakui bahwa hidup pernah berantakan, kemudian perlahan menyusun kembali kepingan-kepingannya.

Pandemi Covid-19 kemudian menjadi salah satu titik penting lainnya. Ketika sekolah ditutup dan aktivitas masyarakat berhenti, Ain bersama komunitas di Kepulauan Gili mencoba membuat sebuah ruang kecil agar anak-anak tetap memiliki kegiatan dan merasakan sedikit kenormalan di tengah keadaan yang serba tidak normal.

Saat itu ia bahkan tidak membayangkan semuanya akan berkembang menjadi sesuatu yang besar. Ia mengatakan bahwa pada awalnya hanya ada satu proyek kecil, satu komunitas dan satu tempat bagi anak-anak.

Tetapi hidup sering kali bergerak dengan cara yang tidak bisa ditebak.

Sebuah ruang kecil kemudian tumbuh. Dari sana lahir pekerjaan yang lebih besar, sementara perjalanan pribadi Ain sendiri terus bergerak dari Gili Trawangan ke Teluk Dalam dan kemudian Mataram.

Namun, bagi Ain, tempat-tempat itu bukan sekadar titik di peta. Setiap tempat meninggalkan pengalaman, orang-orang dan cerita yang ikut membentuk dirinya.

Ia Tidak Ingin Diingat, Ia Hanya Ingin Apa yang Dilakukannya Terus Hidup

Semakin lama tinggal dan bekerja di Lombok, Ain tampaknya semakin memahami satu hal: hidup tidak selalu harus diukur dari seberapa besar sesuatu yang berhasil dibangun.

Ada masa ketika orang mungkin sibuk menghitung sekolah, program, jumlah anak atau berbagai capaian. Ain justru mulai melihat kehidupan dari sisi yang lebih sederhana: apakah keberadaan seseorang benar-benar membuat hidup orang lain sedikit lebih baik?

Baginya, itulah pertanyaan yang jauh lebih penting.

“Hari ini saya percaya ada tujuan di balik semua pengalaman yang membawa saya sampai di sini,” kata Ain. Ia merasa akhirnya menemukan sesuatu yang ingin diperjuangkan dalam hidupnya. Bukan sekadar membuka sekolah, tetapi menggunakan pendidikan untuk membantu anak-anak memiliki pengetahuan, keyakinan, keberanian dan karakter dalam menghadapi dunia.

Ia juga menyadari bahwa dirinya tidak mungkin mengubah semua persoalan yang ada di masyarakat. Tetapi ada satu hal yang masih bisa ia lakukan: membantu mempersiapkan anak-anak menghadapi dunia yang kelak mereka jalani.

Bagi Ain, pengalaman hidup yang menyakitkan tidak harus berakhir sebagai luka yang terus dibawa. Luka juga bisa berubah menjadi sesuatu yang memiliki makna, terutama ketika pengalaman itu membuat seseorang ingin mencegah orang lain mengalami hal yang sama.

“Jika anak-anak yang melewati sekolah kami tumbuh menjadi lebih kuat, lebih berpengetahuan, lebih berempati, dan lebih berani dibanding generasi sebelumnya, maka saya percaya pengalaman saya, termasuk yang menyakitkan, telah berubah menjadi sesuatu yang bermakna,” ujarnya.

Kalimat tersebut terasa seperti simpul dari perjalanan panjangnya. Masa lalu yang pernah membuatnya bertanya tentang tujuan hidup perlahan menemukan jawabannya melalui sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.

Tetapi Ain tidak ingin anak-anak tumbuh hanya untuk mengingat namanya. Justru sebaliknya, ia mengatakan tidak membutuhkan mereka untuk mengingat Tante Ain.

Ia ingin anak-anak mengingat masa kecil mereka sendiri. Mengingat hari ketika mereka tertawa sampai sakit perut, hari ketika akhirnya memahami sesuatu yang sebelumnya sulit, hari ketika mereka jatuh dan kemudian bangkit, teman-teman yang mereka temukan, serta guru-guru yang pernah peduli kepada mereka.

“Saya tidak butuh mereka tumbuh dan mengingat Tante Ain,” katanya.

Kalimat itu mungkin terdengar aneh jika diucapkan oleh seseorang yang telah menghabiskan bertahun-tahun membangun sesuatu untuk anak-anak. Tetapi bagi Ain, justru di situlah letak keikhlasan sebuah pekerjaan.

Jika suatu hari anak-anak itu mengingat masa kecilnya tetapi lupa siapa yang pernah berada di belakangnya, ia tidak keberatan. Yang penting, masa kecil itu pernah memberi mereka sesuatu yang berarti.

Ain juga tidak ingin hidupnya dibangun berdasarkan bagaimana orang akan mengenangnya. Ia sadar bahwa manusia tidak bisa mengontrol apa yang akan dikatakan orang lain setelah dirinya tidak lagi berada di tempat yang sama.

“Ketika kita meninggal, orang mungkin menangis, lalu kehidupan terus berjalan,” katanya. Bagi Ain, itu adalah sesuatu yang wajar dan ia tidak ingin menghabiskan hidup hanya untuk menciptakan kesan tertentu tentang dirinya.

Cara berpikir itu pula yang membuatnya tidak terlalu terobsesi untuk terus memperbanyak sekolah atas namanya. Ia justru membayangkan bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh bisa berjalan lebih jauh, bahkan tanpa harus selalu membawa nama Chili Community House.

Ada mimpi tentang pendidikan bergerak, tentang mendatangi komunitas, membawa buku, berbagi pengetahuan, melatih guru dan membantu orang lain menemukan solusi. Tetapi sekali lagi, yang menarik bukan programnya.

Yang menarik adalah cara Ain memandang warisan.

Ia ingin satu kebaikan melahirkan kebaikan lainnya. Satu anak yang diberdayakan kemudian mampu memberdayakan orang lain, dan orang lain itu meneruskannya kepada generasi berikutnya.

“Saya ingin satu tindakan kebaikan melahirkan tindakan kebaikan lainnya. Saya ingin satu anak yang diberdayakan memberdayakan orang lain. Itu sudah cukup,” katanya.

Mungkin itu pula yang membuat sosok Ain sulit dimasukkan ke dalam satu label. Ia adalah perempuan Malaysia yang memilih Lombok sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya, seorang akademisi dengan latar belakang yang beragam, seorang pendidik, sekaligus seseorang yang pernah melewati pengalaman yang tidak mudah.

Tetapi di balik semua gelar dan peran itu, ada seorang perempuan yang sedang berusaha memahami satu hal sederhana: apa yang bisa diberikan manusia kepada kehidupan setelah ia menerima begitu banyak hal dari kehidupan?

Ain memiliki jawabannya sendiri.

Ia percaya bahwa uang, pengetahuan, jabatan, kesempatan bahkan waktu bukan sesuatu yang benar-benar kita miliki untuk selamanya. Semuanya hanya sementara, sehingga ketika sesuatu diberikan kepada kita, selalu ada pertanyaan lain yang menyertainya: apa yang akan kita berikan kembali?

Karena itu, ia tidak terlalu sibuk memikirkan seberapa panjang namanya akan dikenang. Ia justru ingin apa yang pernah dikerjakannya terus berjalan, bahkan ketika tidak ada lagi yang mengingat dari mana semuanya bermula.

“Mungkin warisan terbaik adalah sesuatu yang terus bekerja bahkan ketika tidak ada yang mengingat dari mana semuanya bermula,” katanya.

Dan barangkali di situlah sosok Noor Ain Hussin menemukan rumahnya.

Bukan pada sebuah gedung, bukan pada sebuah jabatan, dan bukan pula pada sebuah nama yang terpampang di depan sebuah lembaga. Rumah itu mungkin justru berada pada anak-anak yang pernah ia temui, orang-orang yang pernah ia bantu, dan kebaikan-kebaikan kecil yang suatu hari berjalan sendiri tanpa lagi membutuhkan dirinya.

Sebab bagi Tante Ain, warisan terbaik bukanlah tentang seberapa banyak orang mengingat siapa dirinya. Warisan terbaik adalah ketika seorang anak tumbuh menjadi manusia yang lebih baik, kemudian membuat orang lain menjadi lebih baik pula.

“Bukan berapa banyak sekolah yang saya bangun. Bukan berapa banyak program yang saya ciptakan. Bukan berapa banyak orang yang mengenal nama saya,” katanya. “Tapi apakah, di suatu tempat, dengan suatu cara, pekerjaan ini membantu seorang anak menjadi manusia yang lebih baik. Itu sudah cukup menjadi warisan bagi saya.”

Dan mungkin, justru karena ia tidak ingin dikenang, kisahnya menjadi semakin layak untuk diceritakan. (Red2)

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!