Dari Pujut ke Panggung Nasional, Mavi Adiek Garlosa Nahkodai BEM SI Kerakyatan 2026

MATARAM, Lombokpedia.id – Jalan seorang pemimpin sering kali dimulai dari tempat yang sederhana. Dari rumah yang penuh doa, ruang kelas yang mengajarkan arti ilmu, hingga jalan panjang yang ditempuh bersama sahabat seperjuangan.

Perjalanan itu kini mengantarkan Mavi Adiek Garlosa, mahasiswa asal Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, ke panggung gerakan mahasiswa nasional.

Ketua BEM Universitas Mataram (Unram) itu resmi terpilih sebagai Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Kerakyatan 2026 dalam Musyawarah Nasional (Munas) XIX BEM SI yang digelar di Jambi, Kamis (30/7/2026).

Bagi Mavi, amanah tersebut bukan sekadar jabatan. Di baliknya ada tanggung jawab besar untuk memastikan gerakan mahasiswa tetap berdiri di sisi kebenaran, keadilan, dan kepentingan rakyat.

“Tidak ada perjuangan yang lahir dari satu tangan. Tidak ada sejarah yang ditulis oleh satu nama,” ujar Mavi usai terpilih.

Kalimat itu menjadi cara Mavi memaknai perjalanan yang membawanya hingga ke tingkat nasional. Baginya, setiap pencapaian selalu lahir dari kerja bersama, bukan perjuangan seorang diri.

Karena itu, ia menyampaikan terima kasih kepada semua orang yang selama ini menjadi bagian dari langkahnya. Mulai dari kedua orang tua yang tak pernah putus mendoakan, para guru dan senior yang menanamkan nilai perjuangan, hingga sahabat seperjuangan yang tetap berjalan bersama dalam suka maupun duka.

“Terima kasih kepada setiap orang yang pernah membersamai perjalanan ini. Kepada orang tua yang tak pernah berhenti mendoakan, para guru dan senior yang menanamkan nilai perjuangan, sahabat seperjuangan yang tetap bertahan dalam suka maupun duka, serta seluruh keluarga besar gerakan mahasiswa yang telah memberikan kepercayaan,” katanya.

Terpilihnya Mavi menjadi Koordinator Pusat BEM SI Kerakyatan juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nusa Tenggara Barat. Dari sebuah desa di Lombok Tengah, ia kini dipercaya mengemban amanah untuk mengoordinasikan gerakan mahasiswa di tingkat nasional.

Namun, bagi Mavi, kemenangan dalam forum nasional itu bukanlah garis finis.

“Amanah sebagai Koordinator Pusat BEM SI Kerakyatan 2026 bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.”

Ia menegaskan, kepercayaan yang diberikan kepadanya bukan untuk dirayakan, melainkan dijaga.

Ke depan, Mavi ingin BEM SI Kerakyatan tetap menjadi rumah bagi mahasiswa yang kritis, independen, dan konsisten mengawal berbagai persoalan publik.

Menurutnya, gerakan mahasiswa tidak boleh kehilangan keberpihakan kepada rakyat, sekaligus tetap menjaga persatuan di tengah beragam pandangan.

“Mari terus menjaga api perjuangan, merawat persatuan, dan memastikan bahwa gerakan mahasiswa tetap menjadi suara yang berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kepentingan rakyat,” ajaknya.

Bagi Mavi, kepemimpinan hanyalah bagian dari perjalanan. Nama boleh berganti, estafet organisasi akan terus berjalan, tetapi semangat perjuangan tidak boleh padam.

“Karena pada akhirnya, nama boleh berganti, kepemimpinan boleh berakhir, tetapi perjuangan tidak boleh pernah berhenti.”

Dari Pujut, Lombok Tengah, Mavi Adiek Garlosa kini membawa pesan bahwa suara mahasiswa bukan sekadar lantang mengkritik. Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar untuk menjaga harapan, mengawal keadilan, dan memastikan kepentingan rakyat tetap menjadi arah perjuangan.

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!