Gara-Gara Menolak Trump, Aplikasi Lawas MapQuest Mendadak Trending

AMERIKA, Lombokpedia.id – MapQuest mungkin bukan nama yang sering muncul dalam percakapan pengguna ponsel hari ini.

Bagi sebagian orang, aplikasi peta yang lahir pada 1996 itu bahkan mungkin sudah seperti teman lama yang lama tak terdengar kabarnya. Namun siapa sangka, sebuah keputusan untuk tidak mengikuti keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru membuat MapQuest kembali menjadi bahan pembicaraan.

Bukan hanya ramai di media sosial. MapQuest bahkan melesat ke puncak daftar aplikasi gratis paling banyak diunduh di Apple App Store Amerika Serikat.

Kisah ini disadur dari laporan Forbes. Semua bermula dari polemik perubahan nama Lake Ontario. Trump mengeluarkan perintah untuk mengubah nama danau tersebut menjadi Lake America. Google Maps kemudian mengikuti perubahan tersebut untuk pengguna di Amerika Serikat. Apple Maps juga mengambil langkah serupa.

Namun MapQuest memilih jalan berbeda. Aplikasi peta yang sudah hampir berusia tiga dekade itu tetap mempertahankan nama Lake Ontario.

Dan keputusan sederhana itu ternyata membuat publik datang berbondong-bondong. MapQuest bahkan sempat menyindir situasi tersebut lewat media sosial. Setelah Google melakukan perubahan nama, perusahaan itu menulis dengan nada santai bahwa mereka menyadari Lake Ontario masih “diberi label dengan benar” di peta mereka.

Kalimat singkat itu menyebar. Respons warganet pun bermunculan. Bahkan Eric Trump, putra Donald Trump, ikut menanggapi dengan sindiran.

Ia menyebut dirinya terkejut melihat MapQuest ternyata masih hidup, lalu bercanda bahwa ia mengira aplikasi tersebut sudah “dikalahkan” oleh iPhone 3 sekitar 15 tahun lalu.

Namun tampaknya, candaan itu justru tidak membuat MapQuest tenggelam. Sebaliknya, aplikasi lawas tersebut mendadak menemukan jalannya kembali.

Menurut data Sensor Tower yang dikutip Forbes, MapQuest berhasil menjadi aplikasi gratis paling banyak diunduh di Apple App Store Amerika Serikat.

Di Google Play Store, posisinya juga melesat. MapQuest berada di peringkat kelima aplikasi gratis yang paling banyak diunduh di Amerika Serikat dan menjadi nomor satu dalam kategori aplikasi peta dan navigasi.

MapQuest kemudian mengonfirmasi lonjakan tersebut. Perusahaan menyebut posisi di tangga unduhan itu sebagai pencapaian tertinggi dalam hampir 30 tahun perjalanan mereka.

Ratusan ribu pengguna disebut mengunduh aplikasi tersebut sejak Kamis lalu. Aktivitas penggunaannya bahkan melonjak hingga sekitar 50 kali lipat dibandingkan kondisi normal.

Menurut perusahaan, lonjakan itu berkaitan dengan keputusan mereka untuk tetap menggunakan nama-nama geografis yang selama ini sudah dikenal masyarakat.

MapQuest juga memberi sedikit ruang bagi pengguna untuk ikut bermain dalam polemik nama tersebut.

Platform itu menyediakan fitur yang memungkinkan pengguna mengganti sendiri nama danau tersebut sesuai keinginan mereka.

Bukan pertama kali MapQuest membuat fitur semacam itu. Mereka menyebut fitur tersebut awalnya dikembangkan ketika Trump sebelumnya memerintahkan perubahan nama Gulf of Mexico menjadi Gulf of America. Sementara itu, Google Maps memilih mengikuti kebijakan penggunaan nama geografis berdasarkan sumber resmi pemerintah.

Akibatnya, pengguna di Amerika Serikat kini melihat nama Lake America. Namun pengguna di Kanada tetap melihat Lake Ontario.

Untuk pengguna di luar kedua negara tersebut, Google menampilkan kedua nama itu. Di tengah persaingan aplikasi navigasi yang selama ini didominasi pemain besar, MapQuest justru mendapatkan momentum dari sebuah perdebatan politik.

Tidak ada peluncuran teknologi baru yang revolusioner. Tidak ada fitur canggih yang tiba-tiba mengubah dunia.

Hanya sebuah nama danau. Namun dari sana, MapQuest menemukan rute tak terduga menuju puncak App Store.

Dan mungkin, setelah bertahun-tahun dianggap tinggal kenangan, aplikasi yang lahir jauh sebelum era smartphone itu kini sedang menikmati perjalanan comeback-nya.

Sumber: Disadur dan diolah dari Forbes, artikel MapQuest Tops App Store Download Charts After Defying Trump On Lake Ontario, karya Siladitya Ray, 2 September 2026.

Share Now

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!