Keseruan Ariel NOAH Bareng The Dudas Minus One Jalan-Jalan ke Natuna, Laut Biru Jadi Saksi

NATUNA, Lombokpedia.id – Ada cara lain menikmati Indonesia selain duduk manis di ruang tunggu bandara atau berlibur ke tempat yang sudah ramai di media sosial.
Ariel NOAH, Raffi Ahmad, Gading Marten, dan Desta memilih datang ke salah satu sudut Indonesia yang jauh di utara: Natuna.
Empat sahabat yang tergabung dalam The Dudas Minus One itu tiba di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada Sabtu (25/7/2026).
Kehadiran mereka sontak menjadi perhatian warga. Bukan hanya karena nama besar yang mereka bawa, tetapi juga karena Natuna sedang mendapat giliran untuk diceritakan kepada Indonesia lewat cara yang lebih santai: kamera, motor, laut, dan empat orang yang memang sudah akrab dengan dunia hiburan.
Bukan Sekadar Jalan-Jalan
Rombongan ini datang tidak semata untuk mencari tempat bagus buat berfoto.
Program tersebut merupakan bagian dari agenda pemerintah di sektor kelautan dan perikanan. Kampung Nelayan Merah Putih dirancang sebagai kawasan yang lebih terintegrasi untuk mendorong produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir.
Di sinilah perjalanan mereka menjadi sedikit berbeda.
Ada unsur jalan-jalan, tentu saja. Tetapi ada pula pesan yang ikut terbawa: bahwa Indonesia tidak berhenti di kota-kota besar. Di balik peta Indonesia yang tampak begitu luas, ada Natuna dengan lautnya, nelayannya, dan kehidupan masyarakat pesisirnya.
Ariel dan Kawan-Kawan Naik Motor
Yang menarik, perjalanan mereka tidak melulu berlangsung dalam suasana formal.
The Dudas Minus One juga menjelajahi sejumlah kawasan wisata Natuna dengan motor.
Geosite Batu Kasah menjadi salah satu destinasi yang mereka sambangi. Mereka juga menikmati panorama Jalan Lingkar Teluk Depih dan sejumlah sudut lain yang menawarkan wajah Natuna dari sisi yang lebih santai.
Foto dan video perjalanan mereka kemudian bermunculan di media sosial.
Desta, misalnya, membagikan momen perjalanan tersebut melalui akun Instagram @desta80s. Dalam unggahannya, ia menulis singkat tentang Natuna yang menurutnya begitu indah.
Sementara unggahan terkait perjalanan Raffi bersama The Dudas Minus One juga beredar di akun Instagram dan Facebook, termasuk dokumentasi perjalanan mereka di sejumlah lokasi Natuna.
Warganet pun ikut meramaikan perjalanan tersebut.
Ada yang fokus pada Ariel. Ada yang memperhatikan gaya touring mereka. Ada pula yang justru dibuat penasaran dengan Natuna.
Dan mungkin di situlah bagian paling menariknya.
Satu perjalanan bisa membuat orang datang untuk melihat selebritas, tetapi pulang membawa rasa penasaran terhadap sebuah daerah.
Sampai Belajar Gasing
Perjalanan mereka rupanya tidak berhenti pada laut dan tempat wisata.
Raffi, Ariel, Gading, dan Desta juga diajak mengenal salah satu permainan tradisional masyarakat Natuna: gasing.
Mereka terlihat mencoba memainkan permainan tersebut bersama warga.
Sederhana, tetapi justru terasa dekat.
Sebab budaya sering kali tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. Kadang cukup dengan duduk bersama, memegang gasing, lalu mencoba membuatnya berputar.
RRI melaporkan, pada hari terakhir kunjungan, rombongan tersebut juga menikmati kuliner dan mengenal lebih dekat budaya lokal Natuna.
Natuna Mendapat Panggung
Bagi Natuna, kedatangan empat figur publik ini tentu bukan perkara kecil.
Natuna berada jauh di utara Indonesia, di kawasan perbatasan. Keindahannya bukan barang baru bagi masyarakat setempat. Namun, ketika laut dan batu-batu granit Natuna masuk ke layar ponsel jutaan orang melalui unggahan para selebritas, ceritanya menjadi lain.
Destinasi yang selama ini mungkin hanya diketahui oleh mereka yang pernah datang, kini punya kesempatan untuk dikenal lebih luas.
Promosi wisata tidak selalu harus melalui baliho besar. Kadang cukup melalui satu video perjalanan, satu foto di tepi laut, atau satu kalimat: “Natuna indah banget.”
Itulah yang sedang terjadi.
Ariel NOAH dan The Dudas Minus One datang membawa nama besar. Tetapi Natuna, dengan laut biru dan lanskapnya, justru punya kesempatan untuk membawa pulang sesuatu yang lebih penting: perhatian publik.
Dan dari perjalanan itu, satu hal kembali terasa—Indonesia terlalu luas untuk hanya dikenal dari tempat-tempat yang itu-itu saja. (red2)
